“Harga bensin akan jadi Rp. 6000,-”
Hhh… pagi-pagi sudah dengar berita yg tidak enak macam begitu :-/ langsung saja selama perjalanan rumah-kantor yang memakan waktu nyaris 1 jam otakku berubah fungsi jadi kalkulator. Hmm… berarti bujet untuk bensin kira-kira akan nambah 20% juga.. lumayan juga tuh.. nambah shi ba wan. langsung deh kepalaku jadi gatal dan minta digaruk-garuk
Yaah.. sebenarnya aku bisa memaklumi kenaikan itu. Bukan bermaksud so bijak, tapi harus disadari pula bahwa selama ini bensin murah karena disubsidi. So, actually it just a matter of time, harga bensin akan naik sampai batas harga normal (tanpa subsidi). Belum lagi, katanya minyak sekarang makin langka, cadangan seluruh dunia cuma 1,5 juta barrel seminggu (ini juga sudah dikatakan meningkat). Harganya ikut naik pula. jadi yaa… pasti naik lah. Pemerintah toh sebenarnya sudah lama merencanakan ini, cuma cari timing yang tepat saja, sedikit mengundur waktu biar tidak dibilang “Setiap tahun harga bensin naik”.
Benarkah pemerintah sudah tidak sanggup subsidi ? Benarkah harus naik karena biaya pembuatan dan harga minyak naik sehingga pertamina merugi? Atau sebenarnya merugi karena hal-hal lain. Aku tidak mau berburuk sangka walau jelas-jelas tampak buruk
Semoga saja ini memang keputusan yang bijak dari pemerintah. karena kenaikan bensin tidak sekedar harga bensin naik, tp pasti merembet ke yg lainnya: sembako naik, biaya hidup naik, karyawan naik gaji (kalau ini sih aku setuujjuuuuuuuuu!!
), perusahaan terpaksa perampingan (ups.. jangan deh!) atau, bagi perusahaan taksi/angkot terpaksa menaikkan biaya taksi/angkot, karena biaya taksi/angkot mahal supir kesulitan cari pelanggan, honor berkurang, dll… dll.. intinya.. yang susah tetap ekonomi lemah.
Jujur saja.. buat aku pribadi, tambahan 20% bujet bensin itu cukup besar.. tapi toh bisa diambil dari bujet senang-senangku. jadi, menurutku, kenaikan bensin ini tidak terlalu menyengsarakanku, apalagi masayrakat kalangan the-have. tp apa jadinya dengan kalangan ekonomi lemah. Yang kenaikan 20% itu berarti mengurangi jatah makan mereka ? bahkan mungkin menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan
Hhh… sekali lagi, hopefully.. itu benar-benar adalah keputusan paling bijaksana. Aku sih tetap akan berpikir positif pada pemerintah. Bukannya pro-SBY. Cuma, aku berpikir, tidak ada gunanya berpikir negatif. ketika ternyata keputusan ini hanya untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu, aku rasa dosa bukan menimpa kita, bukan ? tp seandainya memang itu benar-benar keputusan yg baik, dan kita berprasangka buruk, tentu kitalah yg berdosa.
So .. Tidak perlu lah demo-demoan… tambah bikin macet -> bensin tambah boros -> biaya hidup masyarakat bertambah.
Lebih baik memikirkan bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan yg akan timbul dari kenaikan ini, berhemat mungkin, mulai pake sepeda ontel lg (wait… aku sedang membayangkan… dari surabaya timur ke ujung barat surabaya… naik sepeda ontel….. masuk angin masuk angin daah!! biaya rumah sakit sepertinya lebih besar daripada tambahan bujet bensin setahun deh
), atau kerja sampingan… jual brownies dan pastel di kantor mungkin hahaha
Just think positive, people!


2 Comments
May 15, 2008 at 2:18 am
Lusa, saya nonton today’s dialogue di metro tv
(ceileeehh.. org kaya gw bisa nonton acara gituan kekeke)
*serius lagi*
Katanya Pak Kwik Kian Gie, mestinya harga minyak di Indo ga terpengaruh dgn harga minyak di New York sono. Lah wong minyak ya minyaknya perut bumi kita dewe. Kan mestinya kita ngambilnya gratis, bukan beli ke New York.
Memang sih produksi kita masih dikit, dan masih perlu sedikit impor. Tapi menurut itung2annya pak Kwik, kalo BBm dinaikkan, pemerintah bakal surplus Rp 53 Trilliun.
Edian toh ??!
*toooohh*
May 15, 2008 at 6:14 am
yah, kayak yg aku bilang… aku nggak mau berburuk sangka meski sebenarnya udah jelas-jelas keliatan buruk. Semoga aja surplus 53 trilliun itu bisa dibuat naikin APBN pendidikan atau kesehatan, atau apalah… yg emang buat masyarakat.
Kalo ternyata nggak ?? Tuhan Maha Tahu dan Maha Adil