Mading (4 public)

Ini adalah halaman yang menyajikan info / berita / cerita menarik, menggelitik, atau sedang booming tanpa banyak komentar atau opini dariku.

Namanya juga Majalah Dinding, karena itu halaman ini juga diperuntukan agar anda dapat berpartisipasi memberi info / cerita bahkan kalau mau mengiklan juga boleh. Tapi, ya .. tentu saja tetap saya filter agar isinya sesuai dengan visi dan misi blog ini (apaan seeeh… :P )

Sayangnya, karena banyak keterbatasan dari fitur blog ini (yaa.. namanya juga gratisan), maka dengan terpaksa.. sembari aku tetap berusaha mencari cara yg lebih baik, tulisan-tulisan anda hanya dapat ditorehkan di bagian komen yang plain-text. Bisa sih, kalau mau komen pakai script HTML.. amat sangat di-monggo-kan kok :D

Oya, ada ide nggak untuk menyiasati masalah di atas ? Let me know, guys. Thx :D

4 Comments

  • Untuk ketiga kalinya AHM (Astra Honda Motor) mengadakan Mudik Bareng. Tahun ini, bekerja sama dengan Gramedia Group dan Ditlantas Polri dan Polda setempat, Honda berharap acara ini dapat meminimalisir potensi kecelakaan sehingga para pemudik dapat melalui perjalanannya denga aman, nyaman, dan tertib. FYI, arus mudik lebaran tahun ini diprediksi meningkan 16,4% dari tahun lalu, atau mencapai angka 15,8 jt. dengan 2,5 juta pemudik bersepeda motor.

    Tahun ini, 3500 pemudik sepda motor akan diberangkatkan tanggal 26 September 2008 dengan rute sbb:

    1. Jakarta – Semarang – Yogya (614 km), berangkat pukul 05.00 WIB dari kantor pusat AHM Jl Yos Sudarso Sunter I, Jakut

    2. Bandung – Yogya (449 km), berangkat pukul 06.00 WIB dari halaman Gedung Sate Bandung

    3. Surabaya – Yogya (282 km), berangkat pukul 09.00 WIB dari Gramedia Expo Surabaya

    Perjalanan ini berakhir di Yogya pukul 21.00 WIB dan dipusatkan di Univ. Negeri Yogya, Jl. Colombo, Karang Malang

    Pendaftaran dibuka sejak tgl 8 Agustus (entah sampai kapan) dengan biaya registrasi Rp 75.000 untuk yg dari Jakarta, dan Rp 50.000 untuk dari Bandung. Khusus pemudik Surabaya, 500 pendaftar pertama tidak dikenakan biaya registrasi.
    Peserta akan memperoleh fasilitas rompi, sarung tangan, peta mudik, tempat istirahat, snack, sahur dan buka bersama, pengawalan Ditlantas polri, voucher bensin selama perjalanan, asuransi kecelakaan, ambulance dan paramedis, serta doorprixe 3 motor Honda dan hadiah hiburan.

    myNote: Lumayan tuh bayar 75 rebu dapet helm, rompi, makan, bensin… sayang aku ga ikutan mudik.. :P

  • 50% Off at Jamoo Shangri-La Hotel Surabaya

    sepertinya selama bulan Ramadhan ini sih. More info : (62 31) 566 1550

  • Japanese Rock Day
    Acara band2 cover Japanese rock by MamaRocker Production. ada cosplay jg loh..tempatnya di D’Cafe Place Sarinah, Thamrin tgl 26 Oktober dari jam 12.00 – 20.00
    yang suka jejepangan dateng yaa xDDD

    Link untuk lihat poster

  • Dongeng Om Dahlan Iskan tentang Krisis Amrik

    Kalau Langit Masih Kurang Tinggi – Jluntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat

    Catatan: Dahlan Iskan

    Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta
    saya ”menceritakan’ ‘ secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan
    di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang
    sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

    SEMUA perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus
    berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba
    sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap
    tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan
    direkturnya.

    Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau
    tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang
    mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya
    harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

    Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu
    orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek
    perusahaan mereka.

    Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau
    para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih
    tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

    Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin
    jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen)
    yang kian banyak.

    Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana
    dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau
    cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi
    cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal,
    hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

    Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa
    tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang
    bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

    Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target.
    Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.
    Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.
    Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung
    sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus
    yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih
    besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar
    itu masih stres?

    Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian
    seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa
    untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan,
    harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin
    jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja
    jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak
    dijual? Beli dengan cara yang licik –dan kasar! Istilah populernya
    hostile take over.

    Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi
    untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa
    mendapat jalan.

    Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
    direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar
    setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus
    naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar.
    Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

    Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan
    kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli
    kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan
    kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin
    maju lagi.

    Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau
    tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau
    Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa
    menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya
    cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

    Sudah lebih dari 60 tahun cara ”membesarkan’ ‘ perusahaan seperti
    itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi
    kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi
    penguasa dunia.

    Tapi, itu belum cukup.

    Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap
    tidak cukup lagi: harus computerized!

    Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus
    meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah
    sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga
    belum cukup.

    Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
    perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus
    meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan
    dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah,
    harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah.
    Demikian juga mobilnya.

    Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan
    beli rumah?

    Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa
    lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?
    Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana
    bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana
    perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya,
    semua perusahaan harus semakin besar?

    Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada
    1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ”Deregulasi Kontrol
    Moneter”. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat
    diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh
    mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara
    pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

    Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,
    asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang
    dimanfaatkan perbankan secara nyata.

    Begini ceritanya:

    Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
    undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan
    memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja
    seperti KPR, meski tidak sama).

    Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh
    ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan
    bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan
    bunga 6 persen setahun.

    Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.
    Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan
    properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat
    dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

    Dengan keluarnya ”jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk
    menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup.
    Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.
    Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

    Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.
    Maka, ada lagi ”jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun
    kemudian. Yakni, tahun 1986.

    Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu
    isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga
    berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya
    rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam
    fasilitas itu.

    Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan
    yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti
    di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.
    Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan
    gratis. Hari tua juga terjamin.

    Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat
    drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun
    berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150
    miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun
    berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004
    mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

    Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.
    Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.
    Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah.
    Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh
    menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

    Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,
    rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar
    bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak
    membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda
    harus langsung pergi dari rumah tersebut.

    Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti
    Lehman Brothers?

    Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990–2004 itu bukan hanya
    karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat
    oleh ”para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk
    membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

    Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
    mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli
    rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

    Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para
    pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk
    membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun
    bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus
    naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih
    untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

    Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
    undang-undang perbankan yang keras.

    Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

    Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ”bank
    jenis lain” yang disebut investment banking.

    Apakah investment banking itu bank?

    Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ”hanya mirip” bank. Ia lebih
    bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat
    banyak hal: menerima macam-macam ”deposito” dari para pemilik
    uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli
    saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private
    placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa
    melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers,
    Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

    Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi
    pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan
    dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam
    kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment
    banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang
    dengan istilah ”personal banking”.

    Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu
    yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di
    sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit.
    Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih
    itu.

    Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu
    saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau
    menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada
    dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk
    memutar cash-flow.

    Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu
    hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage,
    yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta
    mortgage.

    Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan
    oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup
    seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke
    atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik
    atau turun.

    Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah
    lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600.
    Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus
    melakukan penghematan pengeluaran.

    Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian
    tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500
    sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa
    disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi
    dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

    Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu
    kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit.
    Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah.
    Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun
    harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai
    pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

    Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula
    menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang
    lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi
    itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang
    lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu
    roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

    Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?
    Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5
    triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana
    APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana
    itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar
    lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

    Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau
    menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan
    sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh
    bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

    Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah
    dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak
    perusahaan dan orang Indonesia yang ”menabung” -kan uangnya di
    lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

    Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya
    tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya
    pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

    Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu
    menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan
    dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat
    AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok
    yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana. Kita,
    setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)


Leave a Reply