Maaf… bukannya bermaksud bikin tulisan panas. Hanya saja, pertanyaan itu yang tercetus di otakku saat dengar biaya pembelian formulir UMPTN. Mau tau berapa ?? yang 1 bidang (IPA/IPS) Rp 250.000,- yg 2 bidang (IPC) Rp 450.000, – Fiiiuuhhh *ngelap keringat di dahi* … that’s A LOT !!


Apa pendidikan sudah sedemikian mahal ? Aku jg bekerja di dunia pendidikan.. dan, yah.. di tempatku bekerja, pendidikan memang (sangat) mahal, karena swasta yang tentu saja, jujur, pasti memiliki pikiran profit oriented, meski pemikiran utama sang group-owner adalah giftback.. tp orang-orang di bawahnya aku rasa diam-diam tetap menyembunyikan kalkulator di balik punggung.

Mari kembali ke UMPTN. Dulu, satu-satunya alasan saya ikut UMPTN dan ingin masuk PTN, adalah karena PTN itu murah. Aku lupa berapa biaya pendaftaran UMPTN sepuluh tahun lalu.. tp yg pasti tidak membuatku berpikir seperti judul tulisan ini, kok. Dan SPPku tiap semester … cuma 300 ribu. Murah banget kan ?!

Tapi, ya… itu semua sekali lagi karena subsidi. Sejak ada keputusan PTN menjadi BHMN, semua berubah (untunglah SPPku tidak ikut berubah waktu itu hehehe). Tidak ada lagi subsidi. Jadi PTN pun berlomba-lomba cari duit.. hanya agar bisa bernafas sebenarnya. Sperti ikan dalam kolam yg dangkal, rebutan ‘oksigen’. Lagi-lagi … yg jadi korban mereka-mereka yg tidak punya cukup ‘oksigen’ untuk diberikan pada PTN-PTN itu.

Aku ingat dua atau tiga tahun lalu, aku sempat terbelalak waktu baca biaya masuk fakultas jas putih di salah satu PTN Surabaya. angkanya mencapai 9 digit !! pas itu aku juga langsung nyeletuk ke mamaku, “ini sama aja seleksi alam. yang mampu yg bisa masuk”. Tapi dia bilang kalau itu jalur khusus. Hope so, itu pikirku. Paling tidak, jika kata mama benar, anak-anak pintar yg tidak mampu masih ada kemungkinan kuliah di sana. Tapi sekarang ?!?! 250 ribu itu bukan uang sedikit, bahkan untukku. Apalagi untuk keluarga para satpam, OB, supir, tukang becak, dll. Jujur saja pikiran burukku langsung berkomentar, “Seperti menutup pintu gerbang di depan mata bagi mereka”. Mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk bermimpi bisa kuliah. Bagaimana mungkin bermimpi kuliah, sementara untuk mendaftar saja tidak mampu ?

Hhhh… perasaanku benar-benar jadi tidak enak memikirkan ini. Semoga saja informasi yg aku terima ini kurang lengkap, semoga saja ada pengecualian untuk mereka-mereka yg tidak mempunyai 250 ribu di saku mereka. Semoga saja anggaran pendidikan nyaris 20% itu dapat juga mereka teguk meski cuma setetes. Semoga…