Sabtu, 10 Mei 2008, aku ke Gedung Cak Durasim lagi. Terakhir aku ke gedung itu ketika choir-ku konser, kira-kira satu bulan yang lalu. Kali ini gedung itu kembali menjadi sasana pagelaran konser paduan suara Surabaya. Concord Singer akan membawa para penikmat paduan suara menjelajah keindahan Asia dalam Wonderful Asia.

Concord Singer berdiri pada tanggal 10 Januari 2007, atas prakarsa Fritz Simangunsong, sang conductor sekaligus pelatih. Meski terbilang muda, tapi jangan diremehkan kemampuannya karena –seperti tujuan awalnya, yaitu mempersatukan penyanyi-penyanyi Surabaya di bawah satu wadah- anggota-anggota kelompok ini adalah penyanyi-penyanyi top di Surabaya. Boleh dibilang sebagian besar pentolan paduan suara-paduan suara se-Surabaya (dan Malang ?) tergabung dalam Concord Singer. So… bayangkan saja bagaimana jadinya jika orang-orang profesional dan ahli berkumpul jadi satu …🙂 Kalau masih sulit membayangkan, bayangkan saja bahwa untuk konser di Cak Durasim yang cukup besar itu, mereka menyanyi tanpa mic! Ya, tanpa mic! Dan ternyata suara mereka cukup memenuhi ruangan itu lho. So.. lagi-lagi, untuk masalah teknis aku merasa tidak cukup berkompeten untuk berkomentar, meski sebenarnya aku punya pendapat sendiri. Jadi, lagi-lagi tulisan ini hanya review secara awam.

Konser kali ini pun ternyata mereka membawakan seluruh lagu full acapella (aku sudah pernah menonton 3 konser mereka yang lalu). Sesi pertama adalah sesi sacred, terdapat 6 lagu sacral yang bernuansa etnik Asia. 4 lagu pertama adalah karya Ivan Yohan, pemuda Bandung yang mempunyai talenta luar biasa, baik dalam bernyanyi, conduct, maupun menciptakan lagu. Aku benar-benar terpesona oleh lagu Gloria ciptaannya yang malam ini adalah World Premiere. Atmosfer Papua sangat kental pada setiap bagian lagu, range nada yang begitu luas: dari dasar bumi (saking rendahnya) sampai ke langit ketujuh (saking tingginya)😛. Indah luar biasa! Dan tentu saja keindahan itu tidak lepas dari keapikan Concord Singer menyanyikannya. Lagu itu begitu indah dan tentu saja begitu sulit (sepertinya ini adalah pasangan umum di musik: indah & sulit) sehingga kurasa tidak semua paduan suara mampu membawakannya. Tapi, aku sih ingin sekali mempelajarinya🙂 Aku cukup menikmati sesi pertama ini, meski lagu terakhirnya menurutku sedikit membosankan karena selain paaaannjjjaaaaangggg, aku tidak mengerti bahasanya dan tidak bisa menebak kira-kira apa pesan lagu ini (memuji Tuhan, memohon, atau apa gitu).

Setelah break 15-20 menit, sesi kedua di mulai. Wah, ternyata semua penyanyi memakai baju-baju tradisional seluruh Asia. Warna-warni. Keren deh! Aku langsung antusias… “Ini nih yang ditunggu-tunggu! Pasti bakal seru!” Seperti tajuk konser, Wonderful Asia, Sesi kedua ini menyajikan lagu-lagu daerah (folksong) dari berbagai daerah di Asia: China, Philippina, Korea, Mongolia, Jepang, dan tentu saja Indonesia (Minahasa, Tapanuli, Makasar). Lagu-lagu yang sangat indah (jangan lupa pasangan indah: sulit) meluncur satu-satu dari bibir para penyanyi dengan teknik yang, menurutku, luar biasa. Hanya saja, mungkin karena tingkat kesulitan lagu-lagu yang sangat tinggi itu sepertinya para penyanyi terlalu asik berkosentrasi pada partitur di tangan masing-masing dan teknik bernyanyi, sehingga lagu-lagu indah itu terasa ampang. Selain itu, aku agak kecewa karena aku berharap sesi kedua ini akan dimeriahi dengan tarian atau gerakan/koreografi, namun ternyata itu tidak terjadi. Akibatnya, di pertengahan sesi aku sudah mengantuk (ini aneh, karena biasanya kalau nonton konser choir aku selalu ngantuk pada sesi pertama dan antusias pada sesi kedua). Beberapa teman, sayangnya, juga menyatakan hal yang sama. Seorang teman mengatakan lagu-lagunya terlalu berat sehingga sukar untuk dinikmati, padahal ia datang dan membeli tiket berharap untuk dihibur, bukan untuk berpikir. Aku cuma tersenyum ketika mendengar komentar itu. Di satu sisi, aku setuju dengannya karena memang aku sendiri datang karena mencari hiburan. Di sisi lain, yaaa… mungkin itu sudah jadi ciri khas kelompok ini. Menampilkan lagu-lagu berat maksudku. Karena mereka kan sudah tingkat advance, pasti kurang ada tantangan jika menyanyikan lagu-lagu ringan/mudah. Mungkin juga sudah jadi komitmen mereka untuk tidak mencampurkan nyanyian dengan gerakan, so.. that’s why mereka tidak memberi gerakan pada lagu-lagu di sesi dua. Argumen ini adalah analisaku dari hasil menonton 3 konser mereka sebelumnya. Semuanya sama seperti ini. Jadi, menurutku itu adalah kesengajaan, semacam pakem dan keputusan dari Concord Singer. Sah-sah aja, kan. Apalagi bisa jadi trademark tersendiri. Kalau ternyata itu membosankan… yah, mungkin bukan level kita kali untuk nonton yang berat-berat hehehe😀

Yang pasti, malam ini aku keluar gedung konser dengan memori hanya terisi Gloria ciptaan Ivan Yohan. LUAR BIASA !! aku tidak menyangka komposisi itu dibuat oleh musisi muda Indonesia. Wah, benar-benar membanggakan!! Bravo, Ivan !! Oya.. Bravo juga buat Concord Singer yang sudah menyelenggarakan konser Wonderful Asia dan memberiku kesempatan mendengar lagu yang indah itu😀