Pernahkah kamu menyapa orang dengan pertanyaan itu? Aku ramalkan hanya sedikit yang akan menjawab pernah. Bahkan mungkin ada yang mengernyit sambil berpikir ‘ngapain nanya-nanya rambutnya orang?’🙂 Bisa jadi, aku juga termasuk yang mengernyit kalau disapa begitu😛 Padahal aku cuma mengganti satu kata, yaitu ‘perasaan’, dengan kata ‘rambut’ saja kok🙂

Sebenarnya, pertanyaan aneh itu tiba-tiba saja muncul di otakku. Yah, tepatnya sesaat setelah aku pulang dari salon. Bukan bermaksud mau pamer nih, tapi aku ‘punya’ rambut baru, lhooo..😀

my new hair

Entah kenapa, setiap keluar dari salon aku selalu merasa riang. Kepalaku terasa ringan seolah terangkat sudah separuh beban hidup (sayangnya bukan beban badan hehehe :P) Bahkan kali ini pengaruhnya sampai menginspirasi aku untuk menulis post ini.

Hmm.. sepertinya memang ada hubungan affair antara rambut dan perasaan, deh *pasang kacamata detektif*

Bukti pertama adalah populernya frase Bad Hair Day. Siapa yang tidak kenal frase itu, coba? Cewek-cewek terbirit-birit menghindarinya dengan rela bangun subuh untuk mengerol/hair dry/catok rambut mereka sebelum berangkat beraktifitas. Bagi yang bangun kesiangan atau pemalas (seperti aku) akan menggunakan senjata rahasia (ikat rambut/bando/topi) untuk menutupinya. Sedangkan para cowok? Uuh, sama saja! Saudaraku ada yang Pomade addicted, tidak pernah keluar rumah tanpanya. Hal pertama yang dilakukan teman kerjaku yang bersepeda motor ke kantor ketika datang kerja adalah ke kamar mandi untuk membedirikan rambutnya (ehem..ehem.. ada yang mau jujur dan angkat tangan? :D) Ada juga teman yang marah jika rambut jigrak-nya disentuh orang. Belum lagi yang menyisir bermenit-menit untuk menghasilkan belahan rambut yang sempurna. Capeeek deeh.. #:-S

Ketika rambut tertata indah, entah mengapa suasana hati pun jadi turut indah. Dan suasana hati di pagi hari pastinya mempengaruhi mood sepanjang hari. Jujur saja, alasanku meluruskan rambut adalah karena rambutku selalu tampak porak poranda (bahasa resmi morat-marit ? :P) dan hal itu sangat berpengaruh, terutama pada rasa PDku. Aku merasa amburadul, tidak cantik, lusuh, tidak terawat, dll. Siapa yang bisa PD dengan kondisi demikian? Dan tentu saja suasana hati juga ikut-ikutan drop.

Bukti kedua, adanya mitos memotong rambut untuk buang sial. Aku mengenal mitos ini dari sepupuku. Sejak sekolah ia selalu gundul dulu sebelum ujian. Kakakku ikut-ikutan, dan akhirnya aku pun jadi ikut, ya tentu saja tidak gundul😛 Padahal kalau dipikir-pikir, apa hubungannya rambut dengan kesialan? Ya jelas tidak ada (CMIIW, ya). Kalau mau dihubung-hubungkan sebenarnya potong rambut mengakibatkan perasaan bahagia dan ringan (seperti yang aku rasakan di atas). Apalagi bagi para cowok, ketika cukur rambut biasanya mereka juga dapat pelayanan ekstra, pijat kepala serta handuk hangat ditengkuk, yang pastinya memperlancar peredaran darah ke otak. Akibatnya pikiran jadi fresh dan happy, siap menghadapi masalah (ujian atau yang lain).

Bukti ketiga (dan terakhir yang bisa kupikirkan saat ini) adalah kecenderungan orang (khususnya, cowok) untuk tertarik pada lawan jenis yang bertipe rambut tertentu. Mungkin kalau di Indo tidak terlalu terlihat karena kita lahir dengan warna rambut yang hampir sama. Di manca negara yang warna rambut penduduknya rame, para pria menjadikan warna rambut sebagai stereotype pasangan idealnya. Ada yang hanya tertarik pada yang berambut merah. Atau bahkan sangat membenci cewek-cewek berwarna rambut tertentu. Bahkan ada semacam generalisasi sifat berdasarkan warna rambut. Pirang itu bodoh, merah itu misterius, hitam/coklat itu pintar. Walau kurasa mempercayainya adalah hal yang bodoh, terutama jaman sekarang. Secara… rambut bisa dicat gitu lhoooh😛 Eh, tapi pernah lihat juga sih di Oprah bahwa warna rambut juga mempengaruhi suasana hati.

Kalau memang benar rambut mempengaruhi suasana hati, maka sebenarnya tidak ada salahnya juga bila kita menyapa dengan “Bagaimana rambutmu hari ini ?” Betul ga sih ?? Siiih…😀