Sebenarnya konser ini diadakan dua minggu lalu, 15 Juni 2008. Tapi, karena ke(sok)sibukanku, akhirnya baru bisa kutulis sekarang. Karena itu aku tidak mau membuatnya lebih terlambat lagi dengan banyak pembukaan (not working! Hehehe)

Magnificent Baroque adalah tajuk konser ketiga Jubilate Singer. Jujur, tidak banyak yang kuketahui tentang choir ini meski mereka, sepertinya, pelayanan di Katedral juga. Aku kenal, meski tak bisa dikatakan dekat, beberapa anggotanya .Aku juga tahu bahwa konser-konser mereka sebelumnya selalu mengangkat tema musik yang cukup berat. Tapi aku tidak tahu seberapa bagus mereka, apa kelebihan mereka. Jadi, aku datang ke konser itu karena penasaran tepatnya😀 Lagipula aku cukup menyenangi musik Barok.

Konser yang diadakan di kapel SMAK St. Hendrikus itu dimulai beberapa menit setelah jam 19.00. Tadinya aku berniat membeli tiket mahasiswa (hehehe, mahasiswa dari Hong Kong ?), tapi ternyata ada orang gereja yang memberiku tiket regular. GRATIS. Lucky me! 😀

Saat acara dimulai, aku jadi agak kecewa karena choir ini tidak tampil banyak. Yah, mungkin aku kurang informasi, sih. Karena kata temanku, konsep acaranya memang begitu. Choir hanya bernyanyi 2 lagu di sesi pertama, dan 4 lagu di sesi kedua. Pada sesi pertama, beberapa anggota Jubilate bergantian menyanyi solo atau duo. Trifina won my heart for this session. Suaranya menggetarkan!! Sesi kedua, Evellyn sebagai solis tamu tampil bergantian dengan choir. Sebenarnya, Evellyn bernyanyi lebih banyak daripada choir itu. Jadi kesan yang kudapat saat konser selesai adalah seperti keluar dari acara recital pada sesi pertama dan konser tunggal Evellyn dengan bintang tamu Jubilate Singer saat sesi kedua.

Di luar itu, konser ini ternyata cukup mampu membawa kembali era baroc. Aku tahu, aku bukanlah orang yang tepat kalau bicara tentang teknik. Tapi, bingung juga mau menulis apa kalau tidak tentang teknik. Secara … seluruh lagu di konser itu adalah lagu Barok, yang tidak mungkin dinyanyikan dengan tarian-tarian atau ekspresi yang berlebihan. Yah, anggaplah aku bicara tentang teknik sebagai orang awam hehehe. Secara teknik, choir ini berhasil menyajikan barok dengan baik. Lagu barok memang harus dinyanyikan secara ringan karena banyak sekali permainan nada martellato (CMIIW please) dan choir ini menyanyikannya dengan benar. Hal itu ditambah arsitektur kapel yang cocok untuk musik baroc. Selain itu, meski alat pengiringnya hanya keyboard PSR (sekali lagi, CMIIW) tapi suara yang dihasilkan cukup barok (FYI, piano belum ditemukan saat itu. Alat iringannya seharusnya orgal). So.. patut kuberikan jempol untuk perhatian mereka pada detil musik. Banyak choir yang tidak memperhatikan teknik penyajian sebuah lagu. Misal tetap menyanyikan lagu reinassance dengan suara berat, atau worse.. lagu etnik dinyanyikan secara klasik (duuh..!)

Tapi, sempat terlintas di pikiranku apakah produksi suara mereka itu (ringan tanpa ‘membumi’) karena ini konser barok, atau sebenarnya itu kapasitas mereka? Bukan bermaksud menghina, karena mengubah-ubah style suara choir bukan hal yang mudah menurutku. Jadi, kalau ternyata mereka bisa menjadi berat dan full vibrato saat menyanyikan lagu romantic, atau lebih hebat lagi bisa mengganti warna suara sesuai dengan jaman lagu yang dibawakan… IMHO, itu luar biasa! Well, untuk membuktikannya, tinggal tunggu saja kapan mereka konser non-Baroc🙂