Sound familiar? Ya, memang itu adalah tajuk sebuah acara yang mem-‘pleset’-kan (in a good way) pertunjukan broadway terkenal Phantom of The Opera. Itulah mengapa, aku antusias meminta Ella report di sini – (citra)

July 3rd, 2008.

Pulang kerja, setelah ganti baju, n touch up, aku dinner dulu dengan salah satu tvOne’s news presenter, Andrie Nugroho Djarot, terus kami berdua langsung meluncur ke Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki. Kami tiba di sana sekitar jam 19.15 WIB, acara The Phantom of Traditional Opera mulai pukul 20.00.

Kami duduk di barisan VIP yang tiketnya dijual seharga 75ribu rupiah. Kalau regular harganya 50ribu, dan mahasiswa harganya 30ribu rupiah.

Sebelum acara mulai, aku dikenalkan pada Pimpinan Produksi-nya yaitu Mbak Indriyani. Dia adalah manager dari Mahagenta, group yang memainkan The Phantom of Traditional Opera ini.

Ketika masuk ke ruang teater, ternyata banyak orang asing yang sudah duduk memenuhi kursi-kursi. Ada yang western dan juga eastern (aku sempat dengar ada yang bicara dengan bahasa Korea soalnya).

Acara dimulai, stage dibuka, dan pemain-pemain musik siap di belakang alat-alat musik tradisional seperti gamelan, kecapi, kendang, gendang bali, suling, bonang, jengglong, didgeridu, saluang, talempong, biola, rebab, tabla..wait .. tp ada juga alat musik biasa seperti drum, keyboard. Jadi yaaah, menurutku sih rada merusak komposisi instrument, yang tadinya benar-benar tradisional jadi rada nge-pop.

Awalnya aku dan mas Andrie kira opera ini ada alur ceritanya, seperti cerita Phantom of the Opera, ternyata perkiraan kami meleset. Tidak ada cerita ataupun pemain-pemain dramanya. Hanya ada pengiring dengan alat-alat musik tradisional tadi yang kusebutkan di atas dan 4 penyanyi. 2 pria, 2 wanita. Tidak jelas siapa yang memainkan peran Christine, Raoul, atau Phantom-nya. Jadi semua dinyanyikan bersama-sama. Kalau dari segi teknik vokal, hmmm, campuran antara seriosa dan pop, yang masih perlu banyak dibenahi. Banyak cengkok2 yang tujuannya menambah unsur tradisional, tapi menurut kami malah jadi aneh. Tempo lagu juga diseret-seret, dan beberapa lagu yang seharusnya bersahut-sahutan dan ada klimaks, ternyata tidak mereka nyanyikan. jadi tidak ada “greget”-nya:-/

Selain itu, tampilan visual juga kurang sedap dipandang mata, karena wardrobe dari para penyanyi juga terlihat seadanya. Memang sebelumnya, Mbak Indri sempat bilang kalo dana untuk mengadakan pertunjukan ini minim sekali, jadi ya mohon dimaklumi saja.

Dua penyanyi wanita mengenakan baju terusan warna putih seperti di film broadway “My Fair Lady”, tipe-tipe baju seperti itu, tapi 2 penyanyi pria-nya malah mengenakan baju tradisional yang kalau aku bisa bilang, seperti busana “Joko Tarub”😛

Kami sempat ngantuk dan bosan banget. Masquerade dinyanyikan tidak dengan gaun/topeng dan tidak dengan koreografi atau dansa (kami kecewa…). Banyak jeda kosong di sela-sela lagu yang diisi oleh instrumen, padahal sebenarnya bisa saja kan, 4 penyanyi nya dansa.. mereka kelihatan mati gaya banget di panggung. Cuma gerak-gerak sedikit seperlunya.

Mendekati akhir, keluar 4 penari, perempuan & laki-laki, pakai topeng tradisional (bukan topeng Phantom), dan menari dengan gaya penari teater yang IMHO tidak jelas juga maksudnya apa tarian itu. Yah, paling tidak sedikit mengubah suasana deh..

Sebenarnya semua lagu yang ada di Phantom of the Opera mereka bawakan: Think of Me, Angel of Music, The Point of No Return, Primadona, Wishing You Were Somewhere-apaaaa gitu (aku lupa), All I Ask of You, Masquerade, dll. Semua lengkap dinyanyikan, bahkan lagu yang jadi soundtrack credit title-nya, aku lupa tu judul lagunya apa. Tapi ya itu, kurang greget, tidak ada klimaks. Padahal itu kan yang bikin bagus, dan bisa mendapat applause dari penonton.

Tidak lama kemudian, jam menunjukkan pukul 10 malam lebih, dan pertunjukan berakhir. Tanpa ada MC yang menjelaskan narasi dari pertunjukan mereka. Hmmm.. aku tidak tahu, apa itu memang gaya pertunjukan di Taman Ismail Marzuki atau memang Mahagenta maunya seperti itu.

Selesai acara, di luar aku bertemu dengan ibu Christina Mandang (beliau guru vokal alto, pernah sekolah konservatory di Belanda). Aku kenal beliau karena beliau jadi salah satu juri di Petra Choir Festival bulan Maret lalu.. yang nonton PCF pasti tau. Yah, bu Christina juga tidak berkomentar terlalu banyak -apalagi untuk segi vocal- tapi yang sangat disayangkan adalah bagaimana mereka mengemas acara itu..

Hmmm..dari tadi rasanya kok kritik smua ya? Segi positifnya.. ternyata musik mendunia seperti Phantom of the Opera bisa dibuat dengan versi tradisional. Meski masih perlu pembenahan banyak, tapi ide dan kreativitasnya patut dihargai. Dengan kritik-kritik yang udah aku dan mas Andrie sampaikan ke Mbak Indri, semoga mereka dapat membenahi kekurangan-kekurangan mereka karena kata mbak Indri mereka ingin konser keliling daerah.

Begitulah hasil lapdangdeng (laporan pandangan & pendengaran) malam ini. Maaf, kalau hasil fotonya tidak maksimal. Kamera kami ketinggalan, jadi cuma bisa capture pake kamera handphone.

By Ella Enchanted

Ella with Andry
Ella with Andry

About Miss Enchanted:

Sahabat Citra yang heboh dan amat sangat cerewet jika dibandingkan dengan Citra yang pendiam😛 Kuliah di UK Petra dan sekarang sedang magang di tvOne.