Jumat lalu di kantorku ada training untuk dosen dan staff yang bertajuk “Menulis itu Mudah”. Secara garis besar, topik yang dibawakan adalah aturan-aturan menulis jurnal ilmiah dan tips & trick bagaimana menulis artikel (popular) yang menarik. Sebenarnya banyak sekali tips-tips yang di-share-kan si pembicara artikel popular, terutama bagi awam seperti kami. Tapi aku meragukan apakah segunung tips untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana menulis artikel yang menarik?” itu akan menjadikan orang mulai mentorehkan pena di kertas/menghidupkan PC/membuka laptop untuk menulis artikel (atau apa pun). Karena, menurutku, pertanyaan terbesarnya bukanlah itu, melainkan “Apakah tulisan saya cukup menarik ?” dan pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan teori “menulis artikel yang menarik”

Beberapa bulan yang lalu seorang teman menyatakan keinginannya membuat blog. Aku pun dengan bersemangat encourage dia. Tapi, sampai hari ini ternyata blog impiannya itu belum terwujud. Menurutnya, ia tidak tahu bagaimana cara menulis dan tidak tahu mau menulis apa. Tuiingg. Itu adalah pertanyaan yang susah. Kenapa? Karena aku tahu jawabannya, tapi tak bisa menyampaikan jawaban yang tepat. Kecuali kalau temanku itu memang buta huruf, aku akan dengan senang hati mengajarinya menulis. Tapi dia bukannya tidak bisa menulis, melainkan, menurutku, dia tidak punya keberanian untuk menulis karena takut tulisannya itu jelek/tidak menarik.

Ada lagi kesaksian (ciiee…) yang disampaikan oleh saudara Jie. Seorang rekan memuji tulisannya diblog. Katanya very fluent dan menarik (uuuhhh, pujian yang terlalu berlebih!! Hehe.. Episode Sirik terbit). Rekan ini juga curhat tentang kecenderungannya yang selalu merasa neg dengan tulisan-nya sendiri sehinga ia tak pernah menyelesaikan tulisan-tulisannya.

Aku juga mengalami hal yang serupa, dulu. I love to write. Sejak SMP aku sudah menulis cerpen. Padahal jaman itu belum ada computer. Jadi tiap malam masih tak-tik-tak-tuk di depan mesin tik. Jari-jari sampai merah karena sering keblusuk di antara tombol-tombol-nya yang atos binti alot (pernah nggigit, mbak ??). Dengan mesin tik tua itu aku menghasilkan belasan cerpen.

Sayangnya, tak satupun cerpen-cerpenku dimuat di majalah Aneka atau Anita (masih exist gak ya mereka ?) Kenapa ? Karena aku tidak punya keberanian mengirimkan cerpenku itu. Aku merasa tulisanku jelek, nggilani. Aku bahkan menyembunyikan rapat-rapat cerpenku itu dan marah ketika pembantuku tidak sengaja membacanya.

Baru pas kuliah aku berani meminta seorang teman untuk membaca episode pertama novelku. Dan, untunglah… temanku itu begitu baik dan murah hati sehingga dia memuji-muji novelku itu. Hal itu membuatku PD, dan (sampai sekarang) aku dengan rutin mengirimkan hasil tulisanku ke dia. Tapi, dia tidak sekedar memuji lho. Dia juga memberikan beberapa saran jika ada yang dirasa kurang pas. Singkat cerita, kami berjanji untuk saling menjadi editor buat tulisan kami. This is work for us. Aku merasa tulisan kami berdua mengalami improve yang cukup banyak dan aku juga jadi PD untuk menulis.

Meski begitu, 3 bulan yang lalu kePDanku itu belum cukup untuk membuahkan sebuah blog. Aku merasa tulisanku masih jauuuuhhh dari blogger-blogger yang lain. Selain itu, aku defense dengan masalah yang klise “Bingung mau nulis apa”. Sampai Mr. Jie, MBA. mendesakku dan mengatakan “Tulis apa sajalah.” Benar juga, pikirku. Untung pas itu aku baru nonton konser Bel Canto. Akhirnya aku pun menulis review tentang konser itu🙂 Dan ternyata setelah itu, seiring dengan kenarsisanku yang kian berkembang, aku pun jadi ketagihan nge-blog. Nulis apa saja. Dari yang penting, semi-penting, sampai nggak penting blas😀

Kayak tulisan ini. Ini kan cuma sekedar mumbling saja. Kategorinya saja Cuap Cuap Nggak Jelas. Jelas … Tidak penting blas. Tidak akan mengubah angka kemiskinan Indonesia. Tidak akan bikin aku jadi Presiden RI. Tapi ya… nggak apa-apa toh. Kalau tidak ada yang baca, paling-paling aku sendiri yang bolak-balik baca😛 Kalau ternyata dibaca, ya berarti… SELAMAT !! ternyata kamu cukup nganggur punya waktu luang untuk membacanya😀

Tapi, berhubung aku merasa tidak enak hati sudah spent waktu pembaca untuk membaca tulisan tidak penting ini, terpaksa deh aku harus kasih ‘kesimpulan’. Paling tidak moral of the story deh.. (plis, ‘m’-nya diucapkan dengan jelas ya :D)

So… What’s the moral of the story?

    1. Menulis. Menulis. Menulis. Ya!! Menulislah sebelum menulis itu dilarang (lagi). Ingatlah betapa berat perjuangan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan RI. (à nggak nyambuuunngg)
    2. Menulis apa saja. Menulis apa ? Apa saja. Bisa tentang tukang jagal dari Jombang, mengumpati pemerintah, fluktuasi suku bunga bank, merutuki nasib, cara memandikan jenasah, atau hal-hal ringan seperti hewan peliharaan, rambut putih, celana kolor sponge bob favoritmu. Apa saja deh. Tidak perlu takut topiknya tidak menarik. Penduduk Indonesia saja 200 juta lebih, apalagi jika tulisanmu in English, penduduk dunia 2 Milyar! Pasti ada yang tertarik dengan topikmu. Kalau perlu, lakukan langkah berikut: a) Berdiri dengan tangan terentang, b) Pejamkan mata, c) Berputarlah sampai pusing, d) Buka mata, e) Pusing kan ? Ya duduk!! Hehe.. becanda..😛 e) (yang benar) Tulislah tentang hal pertama yang kamu lihat dengan fokus.
    3. Yakinlah: Tulisanmu Menarik!! Tahukah kamu bahwa blogger cenderung narsis ? Tidak semua memang.. (Ampyuun… banyak blogger yang lempar sandal!!) Tapi kenarsisan itu memang barang wajib penulis! Karena penulis = salesman.. sama-sama menjual. Menjual pikiran/ide/khayalan dalam bentuk tulisan sehingga banyak orang tertarik pada tulisannya. Sama seperti teori selling “Percayalah pada produkmu”, penulis juga harus percaya bahwa tulisannya memang menarik. Jika kita sendiri sudah merasa tulisan kita tidak menarik, bagaimana kita bisa menjual tulisan itu.
    4. Tapi.. tulisanku benar-benar jelek! Duuuh, susah ya kalau ada yang ngotot begini. Hmm, OK. Kalau masih merasa bahwa tulisanmu tidak menarik, kamu bisa colong pengalaman saya. Minta satu orang teman membacanya. Ingat, ya. Hanya satu dan harus teman. Kenapa? Karena teman adalah orang yang support kita. Harapannya adalah, temanmu tahu kamu sedang tidak PD, maka dia akan mengatakan tulisanmu menarik. Hehehe. Ya, nggak gitu kaleee…😛 At least, teman (yang benar-benar teman) akan secara jujur mengkritik, tapi akan sungkan jika tak memberikan sanjungan sedikit pun. Itu kan yang dibutuhkan? Kritik untuk mengetahui seberapa jelek tulisan kita dan sanjungan untuk memompa ke-PD-an😀 Kalau kamu benar-benar tidak punya teman😕 Aku menawarkan diri deh untuk membaca tulisanmu, asal dengan harga yg tepat tentu saja.. hahaha.. kidding😀