Miss Kadaluarsa adalah sebuah musikal drama komedi yang dipersembahkan oleh Eki Production. Sudah lama sebenarnya aku mendengar bisik-bisik tentang pertunjukan ini, karena di Jakarta pertunjukan ini sudah digelar bulan April lalu (walau aku dengarnya sekitar Juni pas ultah HRFM). Jadi, begitu tahu kalau Miss Kadaluarsa akan tampil di Surabaya tanggal 13 & 14 Agustus 2008, aku langsung antusias untuk nonton.

Seantusias-antusiasnya aku, toh tetap saja dikalahkan oleh waktu dan kata-kata “Besok saja, wis…”, juga oleh perasaan enggan karena tidak ada teman nonton. Untunglah, setelah mengajak beberapa orang, akhirnya si Ella mau juga kuajak. Tapi, semua itu mengakibatkan aku baru bisa membeli tiket hari Senin (H-2). Tadinya aku tenang-tenang saja karena aku ingin nonton yang hari kedua dan aku yakin hari kedua itu bakal sepi. Ternyata oh ternyata… hanya tersisa tiket yang kelas 2, baik yang hari Rabu maupun Kamis. Itu pun tinggal yang di belakang😦 Jadi rada ketar-ketir, jangan-jangan tidak kelihatan apa-apa nih. Tapi panitianya menjamin bakal kelihatan jelas, so… Akhirnya aku pun memilih nonton hari pertama dengan kursi nomor tiga dari belakang.:-/

Untunglah, ternyata panitia tidak membual. Selain Ballroom Gramedia Expo yang tidak terlalu besar, penataan kursi belakang yang berjenjang ke atas dan panggung yang cukup besar dan tinggi membuatku bisa melihat panggung dengan jelas. Ketika pertunjukan dimulai pun aku bisa melihat ekspresi para pemain dengan cukup jelas. Well, itu juga karena factor luck sih, kebetulan depanku adalah anak kecil. Ella kurang beruntung, depannya adalah dua orang yang lumayan tinggi, so… selama pertunjukkan dia harus nonton dari celah-celah kepala dua orang itu.

Ruang ini nih yg disulap jadi gedung teatrikal

Ruang ini nih yg disulap jadi gedung teatrikal

Sembari menanti pertunjukan di mulai, penonton dihibur oleh permainan band yang rada-rada jazzy gitu.. wiih, serasa di café deh🙂 Tak lama terdengar suara dari antah berantah (soalnya nggak kelihatan orangnya hihihi) yang memberitahu bahwa pertunjukan segera dimulai. Lampu dimatikan dan… eng ing eng…

Tiba-tiba terdengar ada suara tangisan disertai keributan kecil yang semakin lama semakin mendekat. Tak lama muncul dari luar ruangan barisan orang mengangkat peti mati menuju ke panggung diiringi tangisan-tangisan, suara gong, orang bergumam (seperti pendeta tao berdoa). Benar-benar layaknya suasana pemakaman di Cina. Iring-iringan itu naik ke panggung, terus masuk ke sebuah property pintu gua dan menghilang. Yup, cuma numpang lewat saja😀

Tak lama muncul seorang penari dengan kipas muter-muter panggung. Ketika ia masuk, baru aku sadari kalau pintu gua tadi sudah maju beberapa meter dari tempatnya semula. Itulah salah satu hal yang kuacungi jempo dari pertunjukan ini. Cara mereka setting panggung bisa dibilang smooth. Beberapa kali aku tidak menyadari bahwa background sudah berganti, atau tiba-tiba muncul tempat tidur. Dan kalau pun ada pergantian setting yang terpaksa kelihatan (maksudnya, ada property yang dibawa orang masuk panggung) mereka membuatnya dengan indah. Tidak seperti lazimnya pertunjukkan ecek-ecek yang tiba-tiba ada orang berbaju hitam-hitam masuk sambil bungkuk-bungkuk (dengan harapan tidak terlihat ?) bawa property, diletakkan di spot, lalu ngeloyor (dengan bungkuk-bungkuk pula), di pertunjukan ini si pembawa property membawanya sambil menari dan menggunakan property itu seakan-akan untuk tariannya, bukan untuk scene selanjutnya. Assiknya lagi, property-nya itu dibuat sedemikian rupa sehingga multiguna. Jadi, kadang tinggal digeser atau dibuka selubungnya sehingga menjadi bentuk lain.

Back to performance-nya, ya. Ternyata yang dikubur tadi adalah Engtay (Lilis), pacar si Sampek (Sampek-engtay itu lho). Dia bunuh diri karena ingin menyusul Sampek. Dasar nasib, bukannya bertemu Sampek, dia malah bertemu Dewi (Tika Pangabean) penjaga ‘dunia gentayangan’ yang galak, ganjen, sok kebule-bulean, tapi baik hati. Karena mati bunuh diri, maka Engtay tidak bisa bertemu Sampek yang di surga. Dia boleh ke surga asal bisa menyelesaikan satu tugas, yaitu membantu Narcisi (Takako Lee) menemukan cinta.

Nama Narcisi sebenarnya adalah Narsih, seorang gadis dari keluarga sederhana di desa yang sekarang sukses di kota. Karena malu akan namanya, maka dia mengganti namanya dengan Narcisi. Sama seperti masalah cewek pada umumnya, Narsih yang “sudah waktunya” itu masih belum menikah. Ibunya (Ira Duaty) tentu saja sudah bawel, memaksa dia untuk menikah dengan pacarnya, Fauzi (Ully Herdinansyah), dokter ginekolog terkenal yang sebenarnya adalah pencinta wanita (alias tukang selingkuh😛 ). Selingkuhan Fauzy adalah Shiva (Sarah Sechan), teman Narsi dari kecil. Anak orang kaya, tapi kurang kasih sayang ortu (stereotype lah). Ibunya sibuk dengan teman-temannya, ayahnya sibuk dengan selingkuhannya. Shiva selalu menganggap Narsih sebagai saingan. Ketika tahu bahwa Fauzi adalah pacar Narsih, maka Shiva pun menggoda Fauzy (yang tentu saja.. langsung tergoda). Ketika mendengar kabar Fauzy dan Narsih akan menikah, Shiva tak mau tinggal diam. Ia menawarkan rumah peninggalan orang tuanya pada Fauzy. Akhirnya, Narsih tahu Fauzy selingkuh dengan Shiva dan memutuskan untuk putus dengan Fauzy. Setelah itu, Narsih baru sadar bahwa hidupnya begitu sepi, tidak ada teman kecuali tivi (lagi-lagi, stereotype orang kota). Hidupnya terasa hampa. Sangat hampa hingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri. Untunglah, bapaknya (Sukirno) datang dan mencegahnya. Dari dialog dengan bapaknya, Narsih pun sadar dan menemukan makna cinta. Nah, karena Narsih menemukan cinta, maka misi Engtay pun berhasil dan dia bisa bertemu dengan Sampek.

Demikianlah jalan cerita pertunjukan selama 3 jam itu jika disimpulkan dalam satu paragraph hehehe😛 Ya, 3 jam! Untunglah pertunjukannya menarik, terutama di awal-awal. Penampilan Tika yang super keren jadi daya tarik utama. Lucu dan menyegarkan suasana. Memang ada beberapa scene yang terlalu panjang (scene kamar tidur dan di kuburan) sehingga sukses membuatku menguap berkali-kali. Tapi itu juga terpengaruh factor malam yang semakin larut dan kelelahan tubuh. Walau begitu, aku langsung segar ketika Tika muncul😀

Hmm… yang sedikit “mengganggu”-ku adalah jalan ceritanya. Mungkin karena aku hobi nulis, aku merasa cerita yang disampaikan kurang dalam. Terlalu nggelambyar kemana-mana. Singkatnya, tema Miss Kadaluarsa-nya kurang menonjol. Maksudnya, gini… ketika aku membaca judul Miss Kadaluarsa, dalam bayanganku ceritanya lebih menekankan pada bagaimana ketakutan tokoh utama terhadap sebutan itu sehingga ia ngebet nikah atau gimanalah. Tapi di sini justru itu tidak/kurang ditonjolkan. Jika aku diperbolehkan sedikit kasih saran di ceritanya, mungkin akan kutambahkan scene Narsih bermonolog tentang ketakutannya, atau bahkan berdialog dengan dirinya sendiri, juga scene Narsih bimbang mau mutusin Fauzy atau tidak. Kalau tidak putus, sudah ketahuan Fauzy selingkuh, kalau putus… dia tambah jauh dari kata “menikah”. Gitu deh…

Masih tentang jalan cerita, terdapat gap ketidak-nyambungan yang cukup terasa antara Engtay dan the whole story. Sebelum menonton aku sempat dengar wawancara HRFM dengan Tika, dan Tika bilang bahwa scene-nya adalah scene tambahan yang sebenarnya tidak ada di naskah pertama saat pertunjukkan ini ditampilkan di Jakarta. Dugaanku, mungkin produsernya notice bahwa ceritanya terlalu serius untuk konsumsi Surabaya, jadi perlu ditambah ludrukan sedikit hehehe😀 Sayangnya, ludrukan-ludrukan itu rada tidak nyambung dengan keseluruhan cerita. Bahkan seandainya aku tidak mendengar informasi ini sebelumnya, aku pasti tetap akan merasakan hal yang sama. Engtay hanya BT dan sebel sama Shiva tapi tidak tampak usaha-usaha apapun dari dia untuk membantu Narsih. Usahanya yang samar-samar terlihat adalah mendatangkan ayah Narsih ketika Narsih mau bunuh diri. Aku bilang samar-samar karena memang Engtay hanya masuk panggung bersama ayah Narsih lalu keluar panggung. Aku juga baru ngeh kalau itu adalah bantuan Engtay setelah baca sinopsinya kok😀

Meski demikian, banyak hal yang kuacungi jempol. Salah satunya adalah totalitas para pemainnya. Selain harus berakting (yang dilakonkan dengan yahuud oleh setiap pemain), mereka juga harus menari, dan menyanyi. Kecuali Tika yang tergabung dalam Project Pop, pemain yang lain tak punya profesi sebagai penyanyi. But yet, nyanyian mereka lumayan OK. At least tidak fals. Padahal mereka bernyanyi sambil bergerak, lho, bahkan terkadang sambil menari kecil gitu. So, berlatih menyanyi, menari, dan berakting secara bersamaan dan bisa mencapai standard seperti kemarin tentu saja tidak mudah. Belum lagi tarian-tarian yang menyelingi adegan. Koreografi yang mantap plus gerakan lincah dan rapi membuatku terpesona. Salah satu tarian yang kusuka adalah tarian suster-suster di klinik Fauzy. Energik banget. Juga tarian tango yang .. wuiih… sexy abis!!

Aku juga sangat appreciate pada usaha mereka merangkul penonton agar masuk ke cerita. Karena di Surabaya, maka mereka mengubah beberapa dialog agar sesuai dengan kondisi Surabaya, termasuk guyonan dan pisuhan-nya😛 Sepertinya, mereka juga mengambil “artis-artis” lokal sebagai cameo/supporting role sehingga Suroboyo-nya semakin terasa kental. Hal-hal detil yang sebenarnya kecil, tapi berasa karena membuat cerita yang ditampilkan menjadi bagian dari hidup nyata penonton.

Overall, aku merasa worthed membayar tiket seharga 75 ribu itu. Sayangnya terlalu malam dimulai (jam 8) sehingga saat pertunjukan selesai aku bukannya merasa sayang tapi malah bernafas lega. Ngantuk, ndeng! Gara-gara serangan kantuk tak tertahankan itu pula, aku memilih langsung pulang daripada antri foto dengan artis pendukungnya … hiks.. padahal kan aku pengen foto sama saudara kembarku… Tika hehehe😀

Selain menghibur, banyak sentilan bermakna yang diberikan pertunjukkan ini. Yang paling kena, apalagi kalau bukan tentang temanya sendiri: ketakutan untuk jadi kadaluarsa gara-gara tidak cepat-cepat nikah. Eits… tapi aku tidak takut kadaluarsa, kok.. secara bahan pengawetku kan banyak, jadi tanggal kadaluarsanya lebih lama hahahaha😀

PS: Karena dilarang memoto dengan blitz dan karena keterbatasan kamera, maka hasil fotoku luar biasa jelek hehehe. Jadi, gambar-gambar di atas adalah hasil scan dari buku acaranya sama ada 1 yg tari tango itu dapat dari internet hehe😀 Tak ada akar rotan pun jadi toh hahaha😀