Kayaknya dua minggu lalu itu benar-benar waktuku untuk berpesta kuliner hehehe..😛 Setelah Jumatnya makan bebek leko, Minggu-nya, setelah pelayanan di Gereja Yohanes Pemandi, aku dan teman-teman choir-ku brunch (breakfast + lunch) wader goreng + sambal lalap di Kedai Kincir. Itu adalah sebuah kedai/warung di kawasan Ketintang (atau Injoko, ya ?) , di dekat pintu kereta api yang sering makan korban (karena tidak ada palangnya).

Warung ini sudah cukup lama buka di situ. Entah dari kapan, yang pasti jaman aku kuliah aku sering banget makan di situ. Tempatnya tidak berubah sama sekali, artinya masih tetap sederhana seperti dulu. Kita bisa memilih duduk atau lesehan. Di belakang warung terdapat kali kecil. Mungkin di sana lah sumber ikan wader mereka (uff.. don’t wanna thing what those fishes eat!) Assik juga makan ditemani gemericik air kali😀

Menu andalan Kedai Kincir adalah wader goreng + sambal lalap. Wader adalah ikan kecil-kecil, mirip dengan ikan gatul. Walau kecil, ikan ini gurih. Jadi, kalau digoreng kering tentu saja …. hmmm.. kress.. kress. Nah, dicocol dengan sambal terasi jadi tambah… slurppp :D  Gorengan wader inilah yg sempat membumbungkan nama Kedai Kincir. Apalagi harga yang dipatok tidak terlalu mahal, 6K IDR untuk wader + sambal lalapan. Sayangnya, sambal terasinya kurang mantap, terlalu banyak tomat. Dan, kalau tidak salah, sambalnya ini tidak customize. Jadi hanya ada satu rasa pedas saja. Atau mungkin akunya yang tidak minta ya ?? hehe.. my fault then😛 Lalapannya cukup asik: timun, kemangi, daun singkong, daun pepaya, dan kenikir. Jadi, bisa dibilang makan di sini sudah memenuhi 4 sehat.

Selain itu, yang bisa dikatakan menjadi kekhasan, di sini pelanggan bisa mengambil nasi sepuasnya hanya dengan 3K IDR, boleh tanduk pula. So.. buat perut-perut gembul *nunjuk diri sendiri* pastilah tidak rugi😀 Nasi yang ditawarkan pun ada 3 macam: nasi putih, nasi gurih (= nasi uduk), dan nasi jagung. Jelas, aku mengambil nasi gurih campur nasi jagung… kalau nasi putih, mah… di rumah banyaaaaakk😛 Selain wader goreng, ada beberapa alternatif lauk, a.l. patin bakar, ayam goreng, gurami goreng, juga bermacam botok. Ada botok tahu, botok teri, botok udang, juga botok telur asin (this is my favorite .. )

Meski ukurannya jauh lebih kecil dari jaman aku masih hobi makan di sini, tapi rasa botok telur asinnya tetap OK. Tidak seenak buatan rumah tentu saja, secara kalau di rumah bumbunya pasti berlimpah. Tapi makan botok telur asin dengan nasi jagung hangat.. wuiih, enak tenan!

Sebagai pereda dahaga (dan pencegah keseretan hehe) aku memilih minum es degan. Rupanya mereka cukup pintar menyiasati kualitas degan yg sedikit tua, yaitu dengan memarutnya hingga seperti bentuk cendol atau mie pendek. Jadi, meski degannya agak tua, tapi masih chewable, tidak sekeras kalau dipotong melebar. Selain itu, degan itu jadi lebih gampang diminum karena bisa melewati lubang sedotan. Sayang, degannya tidak ikut kufoto hehe😀

Kesimpulannya, Kedai Kincir bisa dijadikan alternatif untuk makan murah dan nikmat, apalagi jika bersama keluarga. Banyak keluarga yang kemari dengan anak-anaknya. Setelah makan, jika mau, kita bisa duduk-duduk di tepi kali sementara anak- anak pun senang melihat ikan🙂

Personal Rating 7/10

Total Cost:

Wader + Sambal lalap     6K IDR

Nasi (free flow)             3K IDR

Es Degan                      3K IDR