Pantai Kuta sangat identik dengan Bali. Kurang afdol rasanya jika kita ke Bali tapi tidak mengunjungi pantai Kuta. Sepertinya mindset itu pula yang menyebabkan pantai Kuta tak pernah sepi. Demikian pula saat kami ke sana di hari pertama liburan kami.

Mungkin sebagian orang mengira, Kuta adalah nama pantainya. Padahal, Kuta adalah nama daerah di Bali. Pantai Kuta sendiri ada di tengah-tengan pesisir antara Legian dan Seminyak. Daerah kuta kini berkembang sebagai industri pariwisata, paling banyak tentu saja tempat berbelanja oleh-oleh dan barang seni.

Perjalanan kami di Kuta diawali dengan mampir ke pabrik kata-kata Joger, si manusia biasa dengan ribuan ide dan karya.

Setelah itu kami berjalan menuju pantai. Lumayan jauh, sih.. Tapi sembari bercanda dan cuci mata (melihat bule-bule cakep hehe), perjalanan ini cukup menyenangkan. Begitu bertemu dengan Ground Zero, kami baru sadar kalau kami nyasar hehe. Harusnya tempat bertemu di Discovery, sementara Ground Zero itu sudah dekat Kuta Square. Tapi, mumpung di sana, ya tidak ada salahnya foto-foto dulu.

Grond Zero adalah monumen untuk mengenang korban bom bali pertama. Membaca ratusan nama yg terpasang di sana membuatku bergidik dan nyaris menitikkan air mata. Mereka adalah korban tak berdosa dari orang-orang yg mengira dirinya Tuhan, orang-orang yg merasa berhak mengambil nyawa orang lain, orang-orang yg merasa tindakannya membela keyakinannya padahal sebenarnya malah mendiskreditkan keyakinan itu. Tindakan yg sama sekali tidak memperoleh apa-apa selain tangisan dan kepedihan.

Jujur, meninggalkan lokasi itu memberikan perasaan lega luar biasa. Aku tidak bermaksud supersticious, tapi aku merasa udara di lokasi itu lebih pekat. Jangan tanya kenapa…

Setelah berjalan.. dan berjalan.. akhirnya sampai juga di pantai. Yes, ladies and gentlemen.. this is the famous Kuta beach!

Pasir pantai Kuta memang tidak putih. Well, aku masih ingat di masa kecilku, pasirnya masih putih. Sekarang, pasirnya coklat, entah mengapa.. mungkin karena tercampur daki para turis hehehe

Meski demikian, Kuta tetap ganteng .. i mean.. cantik. Hmm.. maksudku, pantai kutanya cantik.. bule yg bawa surfboard itu .. GUANTEENG!! hahaha😀

Ada hal yg sangat mengganggu saat itu, yaitu terdapat banyak pipa berkarat yg terserak di pantai bagian atas. Belum lagi buldozer yg bersliweran setiap beberapa saat.

Selidik punya selidik, ternyata sedang ada kegiatan pengerukan pasir. Ceritanya, pantai Kuta semakin lama semakin landai. Bahkan jika kita bermain jauh ke tengah, air laut hanya sampai sepinggang. Nah, pemerintah (atau pihak terkait) ingin membuat pantai Kuta menjadi dalam lagi. Jadi mereka mengeruk pasir-pasir di tengah dan meletakkannya di atas. Aku juga tidak mengerti apa fungsi pipa-pipa besar itu. Yang pasti, program ini ditentang oleh beberapa pihak karena ternyata berefek buruk pada ekosistem di Nusa Dua dan Nusa Penida. Aduh, kalau sudah begini pusing juga ya… Ingin memperbaiki satu tempat tapi malah merusak tempat lain😦

Well, daripada ikutan pusing, mendingan bermain sambil menunggu sunset. Kalau ingin surfing seperti mas bule ganteng itu, banyak surfer lokal yg menawarkan jasa peminjaman surfboard plus training singkat. Ombak di Kuta tak terlalu besar, jadi cukup aman untuk pemula. Kalau merasa tak punya cukup adrenalin, bisa kecek-kecek saja  sambil bermain pasir.

Atau bisa duduk-duduk saja sambil menunggu matahari terbenam. Tempat yg cukup assik untuk ini adalah di bagian belakang Discovery mall.

Berbeda dengan mall-mall lain, Discovery mall menjadikan beach view sebagai daya tarik. Pengelola bahkan menyediakan semacam amphiteater kecil (dengan band di malam hari) sehingga orang bisa nongkrong sambil menikmati laut dan deburan ombak. it’s all free! Sunset included😀

Mau lihat foto-foto yg lain ? Fell free to see them here

Note: Gambar-gambar di atas adalah kumpulan hasil jepretan beberapa fotografer super amatir hehehe😛 So, the credits is not on me.