Hmm.. chocolate… siapa yg tidak suka ? Yang pasti bukan aku!😀 Mengesampingkan segala pro dan kontra tentang coklat, i L-O-V-E chocolate. Makanya, ketika ada kursus membuat coklat di kantorku, aku  langsung daftar.


Dengan membayar 120K IDR, Jumat siang kemarin aku memasuki dapur THM di lantai 4. Ya, ampun.. ternyata yg ikut kebanyakan mahasiswa. Tepatnya, hanya aku dan temanku yg bukan mahasiswa. Untunglah tampilan kami cukup young and trendy sehingga mudah berbaur kwakwakwakwak ..😀

Melelehkan Coklat

Kursus kali ini kami diajari membuat Chocolate Praline, itu lho coklat kecil-kecil yg ada isinya. Hal pertama yg dilakukan untuk membuat coklat, tentu saja melelehkan colat. Sayangnya, kami tidak diajari cara melelehkan coklat. Coklat leleh telah disediakan oleh penyelenggara. Dari penglihatan sih, melelehkan coklat itu gampang. Sempat juga dikasih tahu teorinya oleh sang tutor kayak gini:

  1. Cacah kasar coklat blok, taruh di mangkuk stainless steel.
  2. Ambil panci, isi air hingga separuh. Panaskan air jangan sampai mendidih.
  3. Taruh mangkok berisi coklat di atas panci. Aduk sampai semua coklat meleleh
  • Suhu coklat sebaiknya sekitar 30 derajat. Cara ngetes-nya adalah dengan celupin jari ke coklat. Harusnya coklat terasa dingin karena suhu badan kita 36 derajat. So.. kalau terasa panas, cepat-cepat matikan api atau angkat mangkoknya.
  • Oya, kalau bisa mangkoknya cukup besar untuk ditumpangkan di atas panci, sehingga kemungkinan kecil uap air me’racun’i coklat. Yup, jangan sampai coklat leleh kita terkena air karena akan menggumpal-gumpal.

Mencetak Coklat

Untuk mencetak coklat ternyata tak semudah yg kubayangkan. Bila cetakannya datar-datar saja, coklat memang bisa langsung dituangkan ke cetakan. Tapi kalau cetakannya banyak ulir dan detil, kita harus memakai kuas untuk menyapukan coklat ke permukaan cetakan. Jika dituangkan langsung ada kemungkinan banyak bagian yg tak terisi coklat, sehingga detil-detilnya tidak terlihat. Ooo.. gitu…

So.. mulailah aku melukis hehe.. Cukup sulit juga. Ketika coklatnya panas, maka ia cenderung turun ke bawah, sehingga aku kesulitan menutupi bagian samping cetakan. Tapi ketika dingin, coklat tentu membeku dan menggumpal sehingga sulit disapukan. Coklat yg sudah dingin bisa dipanaskan dengan cara seperti atas.

Karena ingin membuat coklat isi, maka tantangan pun bertambah. Lapisan coklat tidak boleh terlalu tebal (karena isi nanti tidak muat banyak) tapi juga tidak boleh terlalu tipis (karena nanti bisa bocor). Untuk mengetahui apakah lapisan terlalu tipis, maka kita harus menunggu coklat itu kering, lalu diterawang. Kalau masih transparan atau ada yg bolong-bolong, maka harus dilapisi lg. Jangan melapisi saat coklat masih basah, terutama kalau kita mau menggunakan dua warna coklat, karena nanti akan jembret.

Setelah lapisan coklat kering, isian pun dimasukkan. Yang ini pun sudah disediakan, jadi aku tidak buat sendiri. Untunglah dikasih resepnya, jadi masih bisa praktek di rumah. Untuk 8 coklat mungilku, aku mengambil 4 isian. aku lupa apa saja namanya, yg pasti coklat, kopi, wafer, dan oreo. Semuanya dicampur liquir.

Setelah itu, kembali ditutup oleh coklat cair. Tunggu sampai kering, masukkan dalam lemari es kira-kira 30 menit, dan.. Walllaaa… jadi deh coklat praline-ku hehehe…


Coklat yg kubuat tuh yg putih, sementara yg warna coklat tuh aku dikasih oleh penyelenggara. Hehehe.. keliatan banget bedanya, ya.. hihihi.. punyaku belepotan😛 Tapi ga masalah lah.. lha wong tetep enak kok😀