Hari ini Jatim Pilgub putaran 2 , lho .. dah tau kan ?? Banyak kantor libur, tp kantorku masuk 1/2 hari .. payah😦 hehehe😛 Pilihannya.. KaJi dan Karwo (kalo ga salah ya hihihi). So… Cicit pilih sapa neh ?? Cicit pilih …. ngenet di rumah!!😆 Serius. Kali ini Cicit mutusin untuk golput.

I know.. i know… golput is wrong. Kita punya hak pilih, harus digunakan, demi demokrasi, bla bla bla… Aku tahu itu dan (tadinya) sangat tidak setuju dengan golput. Tapi, aku juga punya alasan tersendiri kenapa akhirnya aku merelakan suaraku tidak terpakai.

Kenapa ? Hmm.. sebenarnya alasannya simple. Jadi gini, sejak awal (pilgub 1) aku tuh benar2 blank tentang pilgub mempilgub ini. Sama sekali tidak tahu siapa saja calon-calonnya (meski mereka sudah gembar-gembor kampanye). Tapi, sebagai warga negara yg baik, aku harus kasih suara donk. Tentu saja aku tidak mau milih gubernur dalam karung hehe.. jadi, pas pilgub 1 itu, kuhabiskanlah 1/2 jam untuk membaca baik-baik program-program para kandidat. Jujur, dari 5 pasang itu, tidak ada satupun yg dapat angka 100 dariku. Padahal kriteria penilaianku tidak muluk2: jelas dan realistis. Yang jelas cuma 3 pasang, yg 100% realistis… 0 ! tapi ada 1 yg kayaknya masih do-able karena programnya itu disertai dengan langkah-langkah praktis yg (kelihatannya) masuk akal. So, aku pilih lah dia. Eh… ternyata nggak masuk putaran 2!

Yang lebih buruk, ternyata kandidat putaran 2 ini adalah yg nilainya terendah! Dua-duanya sama2 nggak jelas, dan yg pasti tidak realistis. Yang satu programnya itu mirip bagian pendahuluan sebuah skripsi/proposal, hanya berisi latar belakang permasalahan tanpa ada rencana / langkah-langkah yg akan beliau-beliau lakukan. It’s good to know about the problems, but if you done nothing… the problem still be problem. Kandidat kedua programnya cuma berisi misi dengan janji yg super muluk, yg kalau dinalar pakai logika, tidak mungkin bisa dipenuhi.

Karena itulah aku memutuskan untuk tidak memberikan suaraku pada siapapun. Aku tidak tahu bagaimana caranya memilih diantara yg “buruk”. Ini objectif lho. Aku menilai buruk purely dari program kerjanya. Aku tidak tahu mereka partai apa, orangnya kayak gimana. Jadi bukannya aku dendam kesumat karena idolaku tidak menang atau semacamnya. Aku tidak memilih benar-benar karena aku merasa tidak ada yg patut kuberi suara. That’s all. Aku tidak ingin, seandainya yg kupilih itu menang, lalu ternyata (sorry) brengsek, aku akan menyesal karena telah memilih dia. Lebih baik aku tidak memilih. Toh dua-duanya sama2 buruknya di mataku. Jadi siapa pun yg terpilih, bukan aku yg memilih dia, bukan aku yg menyebabkan dia berkuasa. Kalau dia bagus yg syukur… kalau nggak… i have no guilty feeling..

So.. tinggal ditunggu, apakah Gubernur Jatim nantinya adalah orang yg pintar melihat masalah tapi tidak tahu bagaimana mengatasi masalah ataukah orang yg berangan-angan tanpa bisa melihat realita ? We’ll see🙂