Sudah lama aku tidak datang ke choir event. Sebenarnya ada beberapa choir event terselenggara beberapa bulan terakhir ini, tapi aku selalu tidak bisa datang😦 Untunglah kali ini aku bisa datang. Yah, tentu saja aku tidak mau melewatkan performa Gracioso Sonora😉

Gracioso Sonora (GS) adalah choir yg paling top se-Malang. Well, tentu saja itu hanya sebatas opiniku yg tidak mengenal choir Malang lain selain GS😆 no..no..no.. GS beneran bagus kok. Don’t doubt it. Kalau tidak bagus, mana mungkin mereka langganan juara festival choir? Tidak percaya ?!?! hmm.. let’s see *buka kerpekan* Juara 1 Folklore KPS Unpar (2001), Juara I Kategori Lagu Rakyat & Juara  2 + favorite kategori kelompok kecil Indonesia FPS ITB (2002),  Juara 1 Folkloer & Popular & Juara Umum KPS Unpar (2003), Juara 1 Popilar Music, Musica Sacra, & Folklore KPS Unpar (2005), Juara 3 kategori Ethnic Busan Int. Choral Festival (2006). So… untuk kualitas seperti itu, buatku sama sekali tak sayang mengeluarkan 50k IDR untuk menyaksikan mereka.

Sebenarnya harga segitu cukup mahal, karena konser diselenggarakan di Balai Paroki Gereja St. Maria Tak Bercela, itu pun aku duduk di kelas regular. Tapi seperti yg aku bilang, choirnya berkualitas gitu lhoh..😉 Kelas regular penuh banget, kelas VIP cuma terisi separuh. Meski begitu antusias penonton cukup memenuhi ruangan yg uasnya kira-kira 8×8 itu.

Setelah molor sekitar 30 menit, acara pun dimulai. Sesi pertama, layaknya standard konser choir, terdiri dari lagu-lagu ‘berat’. Hmm.. ada sedikit kesamaan antara GS dan choirku (Eliata). Kami menyanyikan lagu berat dengan ‘ringan’. Maksudku gini, lagu-lagu yg dibawakan itu luar biasa susah (secara not dan teknik) tapi bisa terdengar ringan di telinga. Tidak membuat kening berkerut dan mata mengantuk seperti kalau melihat konser beberapa choir yg lain. Aku jadi ingat, setelah konser choirku April lalu, ada anak choir SMA asuhan dirigenku minta diajari lagu Trashing the Camp, karena dipikir gampang. Juga Besame Mucho yg dipikir ecek-ecek. Padahal.. girl, it ain’t easy as it sound! hehe😛 Nah demikian juga dengan GS. Budi Susanto Yohanes (conductor) dengan apiknya memimpin choir (7 sopran, 4 alto, 4 tenor, dan 3 bas) melantunkan lagu-lagu macam: Se Per Havervi, Oime ; Quick, quick, away, dispatch ; O Salutaris Hostia ; Gloria Patri (karya Budi) ; Air on G-String ; The Lord Bless You and Keep You ; This little light of mine dan Jesu is my joy . Satu yang diacungi jempol adalah suara mereka yg blend. Selain itu, nyanyinya terasa tidak sekedar dari mulut, tapi juga dari hati. Itu tuh yang susah, dan bahkan sering dilupakan oleh beberapa choir. Padahal GS ini choir campuran, lho. Beberapa anggotanya ada yg non-kristen, dan lagu-lagu yg dibawakan adalah lagu-lagu sacra. That’s the power of  music, i think🙂 Overall, sesi 1 indah! Meski aku pribadi merasa ada yg kurang. Misalnya, karena basnya cuma 3, aku merasa kemaren bas-nya kurang membumi. Atau memang style musiknya gitu, yach ? Terus juga, soprannya punya problem yg sama dengan choirku, nada tinggi-nya (a” ke atas) kurang bukaan, jadi sedikit kejepit gitu. Bahkan, kalau boleh aku bilang, nada middlenya (a’-d”) masih lebih ok sopranku hehe (narsis polll!!)😛 Satu lagi … warna kostumnya, bo! Putih. jadinya semua ceweknya terkesan lebih endut, plus.. krn putih cemerlang gitu, kulit para cewek jadi terkesan (sorry to say) mbulak. Kalao seandainya putihnya seperti jas cowoknya (putih gading) rasanya lebih oke deh.

Selesai sesi 1, penonton diberi waktu rehat 20 menit, kemudian sesi 2 dimulai. I can’t wait for this!! GS tuh specialisasinya di floklore, alias musik tradisional. Kostumnya selalu heboh, gayanya juga. Pokoke assik deh kalau GS nyanyi floklore. Kali ini pun tanpa pengecualian. Kostum cewek didominasi warna merah, sedangkan cowonya berbeskap hitam. Sepertinya terinspirasi baju madura atau banyuwangi gitu (CMIIW). sayang, lagi-lagi aku lupa bawa kamera😦 aduh, sebel deh kalo sudah begini. Kostum yg niat cuma sebagian kecil saja dari kelebihan GS di floklore. Faktor lain yg menurutku cukup signifikan adalah mas Budi, sang conductor, mengaransemen sendiri lagu-lagu floklore mereka. And his brilliant! Dalam konser Sabtu malam 1 November 2008 ini, GS membawakan hasil aransemen Budi seperti Keraban Sape (Madura) ; Angin Mamiri (Makasar)Meplalian (Bali) ; Luk Luk Lumbu (Banyuwangi) ; juga 2 lagu pop barat Stand up for Love dan Seasons of Love, juga lagu penutup yg tokcer abiiiiezz.. Hallo Dangdut😀 Kecuali dua lagu barat itu, penampilan mereka di sesi 2 ini TOP!! hehe😀 Aku kurang suka yg 2 lagu barat itu, karena mereka nyanyinya acapella, tapi aransemennya sepi. seharusnya pakai musik tuh. Dari sesi 2, aku paling suka sama Keraban Sape dan Luk Luk Lumbu.. KEREN!

Konser GS kali ini oke banget. Kayaknya mereka emang sudah siap untuk lomba di Busan pertengahan November ini dengan membawa nama Indonesia. Good Luck, guys!!