Cicit ke Bali lagi ?!?!!? Tenang… aku tidak seberuntung itu, kok. Ini sisa-sisa liputanku pas liburan ke Bali lebaran lalu😀

Uluwatu, seperti arti namanya (Ulu=ujung, watu=batu), adalah pura yang berada di ujung selatan pulau Dewata. Kalau dari Kuta sekitar 45-60 menit naik kendaraan pribadi. Tidak terlalu jauh kan ? Apalagi sepanjang jalur ke sini kita bisa mampir ke GWK dan Dreamland. So, menurutku amat sangat sayang kalau tidak mengikutkan Uluwatu dalam daftar acara liburan ke Balimu.

Karena kawasan pura, maka masuk ke Uluwatu tidak bisa sebebas ke objek wisata lainnya. At least, kita harus mengenakan baju yg sopan. Bawahan tidak boleh di atas lutut. Lha, kalau sudah terlanjur ? Tenang… orang-orang di sana telah menyiapkan kain for FREE. Malahan aku agak menyesal memakai celana panjang pas itu. Soalnya melihat teman-temanku pakai kain, kok kelihatan keren ya😦 Oya, begitu melewati pintu pagar, watch out terhadap kera-kera di sana. Guedhe-guedhe plus nakal-nakal. Saranku sih.. copot semua kacamata, anting-anting, kalung, gelang, ikat rambut, topi. Bawa tas cangklok, jangan yg digenggam. Kalau bisa warnanya juga jangan yg menyolok. Monyet ini nih… sempet ngejambak anak temanku gara-gara mau ngambil ikat rambutnya yg warna pink. Untung deh sempet dihalau.

Sebenarnya, daya tarik Uluwatu tidak banyak. Selain puranya (bagi yg cewek, tidak boleh masuk bila sedang … you know), Uluwatu hanya menyajikan pemandangan laut dari tebing, juga aksi tari kecak menjelang sunset. Tapi … man, it worth every penny !

Ini hanya sedikit keindahan yg bisa ditangkap oleh kamera amatirku hehe. The best view actually ada di ujung tebing yg sono itu tuh.. Tapi jauh banget. Kalau nekat ke sana, aku bakalan nggak kebagian tempat duduk buat lihat Tari Kecak.

Untuk nonton tari kecak, kita harus rela mengeluarkan duit 50K IDR. Untung kami waktu itu ada teman yg dari travel, so.. kami kena harga tour 30K IDR. Lumayan..😀 Meski mahal, tapi ternyata yg berniat nonton Kecak… bo’ mbludhaak!! Sampai-sampai penonton yg telat harus rela duduk di lantai.

Sambil menunggu show dimulai, iseng-iseng aku mengamati para penonton. Ckckck.. ini benar-benar seperti pertemuan PBB. Rasanya nyaris semua bangsa ada di sini. Di sekitarku saja aku mendengar orang berbahasa Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, juga mungkin Spanyol atau Itali gitu. Kereeenn!!! Di sini kita baru bisa merasakan bahwa seni itu benar-benar tidak mengenal bahasa ataupun budaya. Bayangkan aja, mana ngerti orang-orang itu dengan dialog para pemeran kecak ? Lha wong aku aja nggak begitu ngerti, kok😉 Tapi tetap saja mereka antusias sekali untuk nonton tari ini. Dan memang… sekali lg worthed bgt! Anyway, tentang Kecak akan aku ceritakan di post yang lain, deh. Habis bakalan panjang kalau aku ceritain di sini hehe. Yang pasti, tari kecak ini adalah salah satu alasan aku jatuh cinta sama Uluwatu.

Alasan kedua jatuh hatiku ke Uluwatu bermula saat aku sedang terkesima dengan cowok-cowok penari kecak. Teman sebelahku tiba-tiba senggol-senggol pundakku, “Mbak Cit, mataharinya, mbak..” Barulah aku sadar. Bentar lagi sunset !! Cepat-cepat kuarahkan kamera ke arah sunset. Untung deh masih lama. Tapi aku antusias banget saat lihat matahari yg bulat itu perlahan turun tanpa ada setitik awan pun menghalanginya. For me, It’s a perfect sunset !!