Minggu lalu, aku dan choirku ke Jember, diundang 2 orang anggota yg nikah di sana. Mumpung di luar kota, sekalian lah kita jalan2. Karena ini kali kedua kami ke Jember, jadi tempat wisata kayak Watu Ulo/Tanjung Pampuma, Rembangan, dan Kawah Ijen sudah pernah kami kunjungi (tidak semua dari kami sih.. aku belum ke Kawah Ijen😥 ). Jadi kali ini kami memutuskan untuk ber-hiking ria ke Tancak Kembar.

Tancak Kembar adalah nama sebuah objek alam berupa sepasang air terjun di daerah Bondowoso, yaa.. sekitar 1.5 jam-an dari Jember. Aku bilang objek alam, karena meskipun indah banget, sepertinya Tancak Kembar masih belum diberdayakan jadi tujuan pariwisata. Kayaknya hanya para penjelajah a.k.a pecinta alam, dan kami, yg ngebet banget ke sana😛

Dari Bondowoso ke Tancak Kembar jalannya cukup berliku dan terjal. Bis kami jelas tidak sanggup menempuhnya. Karena itu, salah satu temanku asal Jember yg jadi EO dadakan selama kami di sana telpon sana/i untuk menyediakan transport ke sana. Dan inilah transportnya …😀

Iya, emang mobil pick up itu lah yg membantu kami ke 3/4 perjalanan menuju Tancak Kembar. Bener-bener kayak sapi/kambing deh. Meski gitu, perjalanan menuju ke/dari Tancak Kembar ini menjadi kenangan tersendiri buat kami🙂

Di tengah perjalanan, pas jalan sudah mulai terjal, sebuah mobil di depan mobil kami mogok. Alhasil, kami terpaksa jalan kaki. Cukup lumayan sih, berasa fitness gitu deh. Awalnya aku sih oke2 aja, bahkan ketika pick-up2 kami sudah bisa naik, aku dan beberapa kawan memutuskan untuk tetap jalan. Ternyata, setelah ditinggal pick-up, jalan tambah terjal kemiringannya… mulai deh ngos2an, terus.. yg paling nggak nguati.. kakiku lecet😥 Terus temenku telpon kawan2 yg sudah di atas, minta dijemput. Tapi ternyata karena jalannya kecil, tidak ada tempat putar balik, si pick-up cuma bisa nunggu di sebuah jalan yg nggak sampe 5 menit dari pos perhentian😥

Sampai di pos perhentian, kami jalan lagi ke Tancak Kembarnya. Oya, perlu diketahui, karena minimnya informasi dan janji2 palsu bahwa jalan ke sana itu landai dan enteng, kebanyakan dari kami cuma pakai sandal, bahkan banyak yg pakai sandal jepit. Ternyata jalan yg kami tempuh… jauuuuuuuuuuhh dari kata “enteng”.

Sepanjang jalan menuju ke air terjun adalah jalan setapak yg kadang diselipi batu2 tajam. Kesulitan itu bertambah dengan turunnya hujan sebanyak 2 kali, tidak terlalu lebat sih, tapi cukup untuk mengubah tanah menjadi lumpur. Akibatnya… banyak korban bergelimangan, sandal2 jepit yg pada putus hahahha😀 But, it’s worthed kok. Pemandangannya luar biasa indah dan hijau banget. Paru2 jadi terasa bersih. Di tengah jalan ada aliran mata air yg dingiiiin dan bersih.


Setengah jam berlalu, sepasang air terjun pun terlihat. Udah dekat??? Beloom… Itu bukan Tancak Kembar, itu air terjun lain. Kami melewati salah satu air terjun itu. Huaaah… bagus banget!! Langsung deh foto2 di sana, sekaligus cuci kaki dan sandal.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan. Aku mikir medan sebelum air terjun ini sudah berat karena liciiiin, ternyata… medan setelahnya jauuuuuuuh lebih berat. Kata “jalan setapak” bisa diartikan harafiah di sini, yaitu jalan yg lebarnya cuma setapak kaki. Bahkan terkadang kami harus merambah tanaman2 karena memang tidak ada jalan. Licin ?? So pasti!! Aku dan 2 orang kawan tertinggal jauh di belakang. Apalagi jalannya semakin lama semakin masuk hutan.Rasanya sudah putus asa dan pengen balik. Tapi di lain pihak, nanggung banget kalo balik!! So, kita pun lanjut, sambil nyumpahi si temen dari Jember yg njanjiin perjalanan “enteng” tadi😛 Hal yg paling membahagiakan buatku adalah pas ketemu sungai. Bahagia tak terkatakan!!! Soalnya bisa cuci sandal yg udah liciin kena lumpur. Kita ketemu 2 sungai, tepatnya harus melewati 2 sungai. Aliran sungainya deras, seakan kelaparan ingin memakan sandal2 kami😛 Meski gitu airnya dingin dan jernih. Coba nggak harus ngejar rombongan lain, aku pengen main2 dulu di situ.

Perjalanan pribadiku yg sudah cukup berat karena kaki lecet, harus menerima cobaan lain yaitu kena duri2 tanaman. Ceritanya nih, temanku yg di depan salah ambil jalan. Udah deket banget padahal sama Tancak Kembarnya. Nah jalan itu buntu, akhirnya kami pun putar badan, otomatis lengan2ku menggeser tanaman yg berjajar sebahu di kanan-kiri. Sreeeeeetttt… Krenyeng..krenyeeenngg… Sekujur lenganku langsung kerasa sakiit dan ngilu. Bahkan sempat kaku. Aduuuh, aku nggak bisa nahan air mataku untuk keluar. Untunglah setelah sampai di air terjun, ada teman bawa minyak oles gitu. Setelah kuoleskan, sakitnya lumayan reda. Habis itu aku baru bisa menikmati si Tancak Kembar. Amazing Grace deh.. pokoknya.

Aku rada2 bersyukur alam menyembunyikan keindahan itu serapat ini. Keindahan yg membutuhkan effort untuk disaksikan. Jadi nggak murahan gitu. Seandainya dipergampang oleh manusia (kayak Coeban Rondo gitu), mungkin jadinya tidak indah lagi, karena sudah “tercemar” ulah manusia. Dan aku bersyukur, aku cukup kuat mental dan fisik buat mendatangi keindahan itu hehehe.


Setelah puas foto2, beberapa bahkan mandi, kita pulang. Pulangnya lewat jalan yg sama😥😥😥 Terasa lebih ringan sih, karena kita udah tau medan. Tapi kakiku udah nggak mau kompromi. Lecetku sakiiiit banget, apalagi kalo sandalku selip di tempat2 licin. Huuaa.. pengen nangis, tapi kok malu😦 Satu jam kemudian, kita sampai di pos perhentian, tempat pick-up2 kami parkir. Kakiku udah full lumpur karena beberapa kali aku lepas sandal, nggak tahan sama licinnya. Lecetku ?? Setelah aku cek, segedhe logam 100 rupiah.. dan yg bikin aku miris, banyak tanah masuk di antara kulit yg terbuka itu. Jujur, palaku langsung pusing ngebayangin kemungkinan infeksi. Nggak bisa nyuci juga, karena udah dipanggil2 buat cepetan (kayak pas berangkat, aku paling terakhir sampe). Ya udah, cuci nantilah…

Perjalanan pulang dengan pick-up tidak seindah berangkatnya. Karena jalanannya turun, kami terkepung asap solar. Apalagi pick-up yg aku tumpangi ditutupi terpal, asapnya berputar di dalam. Rasanya kayak diperangkap di ruang gas deh. Akhirnya kami minta supirnya untuk membuka terpal. Jadinya rada mendingan. Tapi nggak lama… HUJAAAAAAANN!!! Deras banget lagi. Udah deh, semua pada basah kuyup. Teman2 yg di pick-up satunya pun basah kuyup meski mereka mencoba berlindung dalam terpal. Kakiku yg tadinya coklat penuh lumpur, jadi bersih lagi hehehe. Selama perjalanan itu kami ketawa ngakak. Menertawakan diri sendiri.Tau nggak yg lebih malu2in.. pas sampai kota Bondowoso, hujan tiba2 berhenti. Dan kami jadi orang aneh karena basah kuyup sementara kotanya kering.


Benar2 perjalanan yg tak akan terlupakan seumur hidup. Rancak Bana!!!😀😀 D