Lombok. Beberapa tahun terakhir pulau yg berdampingan dengan Bali ini mulai naik daun, bahkan disebut-sebut sebagai alternatif tujuan wisata setelah Pulau Dewata. Minggu lalu, akhirnya aku dan keluargaku jadi juga liburan ke Lombok. Intinya maksa mode ON deh.. sengaja bela2in cuti 2 hari dan pake acara semi-ngerajuk ke ortu. Semi-ngerajuk, soalnya untuk liburan ke sana butuh duit yg nggak sedikit juga. Maklumlah, bawa sekeluarga (5 orang) plus ada batita pula… jadinya nggak bisa tidur ngemper (ala backpacker). Akhirnya disepakati bahwa biaya dibagi bersama: bokap tiket pesawat (yg harganya selangit gara2 keputusan H-2), aku kebagian biaya hotel, nyokap biaya makan, dan kakak biaya transport di sana.

Selama 3 hari 3 malam di sana, kami menginap di Holiday Resort yg cukup mempesona sehingga masuk daftar review cicitcuit😀 Dengan menyewa sebuah mobil beserta sopir, kali ini kami hanya menyusuri daerah barat, pusat, dan selatan Lombok. Itu karena dari cerita Pak Dahlan, sopir kami, komoditas wisata yg agak lumayan sudah tertangani adalah daerah-daerah tersebut. Sementara daerah Lombok Timur “Tidak ada apa-apa,” kata Pak Dahlan. Sebenarnya aku penasaran juga pengen ke Lombok Timur.. tapi dengar-dengar cerita juga kalau penduduk sana kurang bersahabat dengan wisatawan.. ini sih masih gosip ya.. belum tentu benar juga. Lagipula, waktu 3 hari itu pun rasanya tak cukup jika kami juga pergi ke timur, soalnya tanpa ke sana pun ada beberapa tempat wisata yg kami skip karena terbatasnya waktu.  Titik2 merah di peta atas adalah daerah2 yg sempat kami kunjungi, sedangkan yg biru adalah daerah wisata yg tidak sempat kami kunjungi.

Kalau anda liburan ke Lombok, jangan kaget jika merasa seperti minoritas. Ini bukan masalah agama atau apa. Hanya saja, nyaris 90% turis Lombok adalah turis manca negara. Kemarin aja karena pas liburan sekolah, masih ada beberapa rombongan (selain kami) yg turis lokal. Boleh di kata, lebih gampang ketemu orang Indonesia di Singapore daripada di Lombok hehe😛 Dari Pak Dahlan kami juga tahu bahwa sebagian tanah di Lombok sudah dibeli oleh orang2 asing. WHAAAT?!?!?! Kok bisa? Ya, bisa lah… mereka pakai nama penduduk asli untuk belinya. Jujur, terbersit kekhawatiran jangan-jangan ini adalah bentuk penjajahan yg baru. Semoga saja tidak😦 Tapi terlihat juga bahwa pemerintah terkesan lamban atau bahkan tidak melihat peluang-peluang wisata di Lombok. Akibatnya, yg banyak bergerak di sana adalah pihak swasta.. terutama swasta multi-nasional. Banyak lahan yg sudah di-‘akuisisi’ oleh hotel-hotel internasional, atau juga pemodal luar negeri. Ayo, donk, pemerintah.. masa mau diam saja ???

Anyway, kebanyakan tujuan para bule ke Lombok adalah untuk menikmati pemandangan bawah laut, alias snorkling dan diving . Ya, jualan utama Lombok memang pantai dan lautnya yg cuantiiiikk dan seksi😉. Tentu saja buat yg suka climbing ada Gunung Rinjani yg kesohor itu. Di dekat situ ada sebuah air terjun Senanu yg katanya bagus buat relaksasi. Sayangnya, karena kondisi kaki papa yg suka saki kalau dipakai jalan jauh, kami tidak ke sana. Selain itu, kita bisa wisata di darat, mengunjungi beberapa pura, dan belajar budaya Lombok. Dan … ya jelas laaah… wisata kuliner, donk hehe.

Ikuti liburanku ke Lombok di postingan2 selanjutnya yaaa😀