Sebagai sebuah pulau, wajarlah jika komoditas terbesar Lombok adalah pantai. Bahkan selain bertani, pekerjaan utama penduduk Lombok adalah nelayan. Maka tak heran jika Lombok mengikuti jejak pulau tetangga, Bali, dengan mulai bersolek dan menjual keindahan pantainya.

Pantai di Lombok cenderung tenang, tapi dalam. Tidak seperti pantai di Bali yg surganya surfer, pantai Lombok lebih banyak dipakai untuk olah raga snorkling atau diving. Entahlah, mungkin ada juga pantai2 lain yg bisa digunakan surfer, tapi dari beberapa pantai yg sempat aku kunjungi, tak ada satupun orang yg bawa papan selancar.

Pantai Senggigi

Pantai ini patut disebut sebagai Kuta-nya Lombok. Daerah Senggigi adalah daerah wisata paling “hidup” di pulau Lombok, Gili Trawangan tidak dihitung. Cafe dan bar bertebaran. Sekitar pantai nyaris habis dijadikan private beach oleh hotel2. Selain itu, yang membuat mirip adalah pasirnya. Pasir Senggigi juga hitam kecoklatan seperti pasir Kuta Bali. Meski hitam, pasirnya berkilau. Keren abis deh!


Hari ke-2 kami memutuskan untuk ke pantai Senggigi yg umum. Masuknya dari gang menuju Senggigi Beach Hotel. Karena malam minggu, maka pantai penuh banget. Tapi tidak dengan wisatawan, melainkan dengan penduduk lokal. Di tepi pantai berjajar para pedagang pernak-pernik (ini sih wajar) dan … penjual sate! Iya.. Pantai Senggigi juga terkenal sebagai spot sate. Mereka berjualan di belakang “tempat parkir” kapal. Kita, yg mau makan sate, duduk di atas tikar yg digelar di semenan gitu, di belakang kapal, menghadap pantai. Kita bisa menunggu sunset sambil makan sate dan berbincang ringan. Memang sih, pemandangan sedikit terganggu dengan keberadaan kapal2 kecil itu. Sepertinya kawasan yg aku kunjungi ini adalah pelabuhannya, karena itu banyak kapal berlabuh dan bersliweran. Mungkin jika aku jalan rada jauhan dikit, pantai akan lebih bersih dari kapal. Tapi saat aku datang sudah senja dan gelaap karena mendung. Bahkan niat untuk melihat sunset gagal karena mataharinya sembunyi di balik mendung. Apes deh!😦

Pantai Kutha

Jangan salah, di Lombok juga ada pantai Kutha. Letaknya di daerah selatan Lombok. Berbeda dengan Senggigi, pantai Kutha putih kekuningan, gembur, dan sakiiiittt di kaki. Cocok banget buat pijat refleksi😀 Itu karena pantainya bukan terbentuk dari pasir lembut, melainkan coral kecil2, yg biasa disebut pasir merica karena besarnya sebutir pasir nyasir sama dengan merica. Pemandangan alamnya.. WOW! Sayang pemandangan sekitarnya masih “rungsep”. Sarana dan akomodasi masih minimalis. belum ada hotel bintang yg genjreng berdiri si sana. Bule di sana juga sepertinya sih, lebih banyak backpacker, atau hippies kalo papaku bilang. Pas kami ke sana laut lagi surut. Maka di tepi pantai banyak karang2 bertebaran, yg sukses menambah derita kakiku. Lautnya tenang. Tapi kata bocah2 kecil yg lagi mainan sekaligus jualan di situ, kalau pagi pas pasang ombak guedhee.

Tanjung Aan

Jika terus menyisiri pantai Kutha dan terus ke selatan, maka kita akan tiba di Tanjung Aan. Di sini lebih sepi lagi, bahkan cenderung gersang. Tapi jangan salah, view pantainya… LUAR BIASA!! Berasa ada di private beach gitu deh. Pasirnya setipe dengan yg di Kutha, tapi di sini jauh lebih bersih. Airnya hangat dan tenang luar biasa. Sayangnya, pantai ini menghadap ke selatan, jadi bukan tempat yg tepat kalau ingin melihat sunset.

Selain itu aku benar2 terganggu dengan para pedagang di sana. Super duper agresif dan main keroyok. Aku sih pake strategi cuek bebek tuli mendadak. Biar dikerubutin, tetep aja ngeloyor ke pantai dan mainan air di sana. Tapi bokap, lebih2 nyokap, malah meladeni. Dan alhasil mereka sama sekali nggak bisa menikmati pemandangan. Malah sibuk nawar sana-sini, beli ini itu. Akhirnya, aku juga yg ga tahan dan marahin beberapa pedagang yg masih ngenyel minta bokap beli dagangannya (secara dagangannya jelek gitu, lho). Kalo gini caranya, turis2 pada males ke sini karena terganggu dan nggak bisa nikmati pantai. Jadinya mereka malas balik ke sini. Gitu kira2 yg aku bilang ke mereka. Benernya mereka cukup membantu juga kalau kita mau beli oleh2 yg banyak. Karena banyak banget, mereka saling kompetisi, banting harga satu sama lain. Tapi ya itu tadi.. cara jualannya annoying.

bersambung …