Pulau Lombok yg terhitung kecil jika dibandingkan Jawa, ternyata juga punya beberapa anak pulau yg mungil2. Hampir semua pulau2 kecil itu bernama Gili. Makanya aku sebut Gili Bersaudara atau The Gili Sisters hehehe bisa buat album rekaman tuh😛 Di Lombok barat yg terkenal adalah si kembar tiga Gili: Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Di Lombok timur dan selatan  masih ada beberapa Gili lainnya, tapi aku juga tidak tahu persis nama2nya.

Dari kembar tiga itu, yg paling beken adalah Gili Trawangan. Penasaran banget buat ke sana. Tadinya aku nyaris harus menelan rasa penasaran itu karena yg lain pada malas nyebrang pakai perahu. Lalu kami memutuskan untuk naik mobil saja menyisiri pantai menuju utara. Perjalanan ini, yg aku pikir bakal membosankan, ternyata assik juga. Sepanjang jalan kami disuguhi view yg .. wis two thumbs up deh. Gimana nggak… sebelah kanan kami adalah pegunungan yg hijau, sementara sebelah kiri bawah kami adalah pantai dan laut lepas. Jalan yg berkelok-kelok malah memberi panorama yg lebih indah lagi.

Di tengah perjalanan, tiba2 tampak 3 pulau berderet. Cantiiiik luar biasa. Sayang kami tidak bisa turun untuk foto2 karena jalan sedang diperbaiki sehingga lebih sempit dan mobil tidak boleh berhenti. Aku cuma bisa ambil gambar seadanya aja dari dalam mobil yg lagi heboh goyang akibat jalan rusak.

Kecantikan si kembar ternyata bikin papa luluh. Tiba2 aja papa minta pak Dahlan, sopir kami, untuk telpon temannya yg punya boat. Singkat cerita, kami jadi nyebrang ke Gili!! yeaah..

Dari Teluk Benu (CMIIW. Biasa.. lupa) kami nyebrang dengan boat selama 30 menit ke Gili Meno. Oya, sewa boat seharian 500K IDR. Itu tarif lokal, kalo bule lain cerita. Waktu itu ombaknya gedhe banget. Kapalnya megal-megol.. kalah deh goyang gergajinya DP hehehe. Ponakanku nangis terus. Aku juga rada takut sih, apalagi ortuku yg kurang bisa renang. Tapi pemandangannya… wih, amazing banget! airnya super duper jernih, mana waktu itu langit lagi cerah banget. Aah, senangnya…😀

Begitu kapal mendekati Gili Meno… aku terpesona. OMG.. kata cantik kayaknya nggak cukup untuk menggambarkan deh.

Gili Meno adalah pulau kecil mungil yg dikelilingi pantai pasir putih. Kata Pak Dahlan, mengitari Gili Meno dengan jalan kaki kira2 2-3 jam saja. Kecil kan ? Meski kecil tapi haduuh… cuantiiik luar biasa. Aku tahu.. mungkin ini sudah kesekian kalinya aku nulis kata “cantik”. Tapi dari sekian banyak, ini yg paling cantik deh. Kayak dewi gitu. Warna air lautnya 3 gradasi, menunjukkan tingkat kedalamannya: biru pucat, tosca, dan biru. Tempatnya tenang, dan terkesan lebih berkelas dibanding pantai2 di Lombok. Cukup banyak bule bersliweran dengan alat diving, atau cuma main air dan berjemur. Sepertinya hari itu kami satu2nya turis lokal di situ. Pedagangnya sedikit dan sangat behave. Hanya ada 1 hotel di sana, itu juga aku tidak tahu tempatnya.

Tanpa ba-bi-bu, aku, kakak, dan iparku langsung ganti baju dan mainan di pantai. Airnya, sayangnya, hangat. Aku berharap kayak dreamland gitu yg airnya kayak air es. Ombaknya cukup besar, tapi tidak bergulung seperti dreamland. Lumayan puas mainan di sana. Untunglah mendung, jadi badanku tidak gosong hehehe.

Kami melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan. Kali ini naik glass bottom boat. Sewanya 400K IDR. Kapalnya hampir sama kayak boat sewaan kami tadi, hanya saja dek bawahnya diganti kaca tebal sehingga kami bisa melihat bunga karang dan ikan2 di bawah. Ini kali pertama aku lihat bunga karang. Ternyata lucu2 ya bentuk dan warnanya. Jadi pengen snorkling nih.

Aku tidak terlalu menikmati penyebrangan ini. Mungkin gara2 harus liat bawah plus ombak yg luar biasa besar plus kecepatan kapal yg rendah, aku jadi pusing dan … JACKPOT !!😆 Terpaksa deh aku harus mencemari laut dengan isi perutku. Habis nggak sedia kantongan :p Untung yg keluar cuma jus jeruk aja sih.

Menyaksikan kecantikan Gili Meno yg dasyat begitu, ekspektasiku pada Gili Trawangan kian melambung. Secara.. Gili Trawangan kan yg paling beken. Pastinya lebih bagus lah dari Gili Meno. Ternyata oh ternyata … tidak seperti yg kuharapkan. Sebenarnya pantainya cantik, sih. Hanya saja terlalu crowded. Banyak kapal bersliweran dan berlabuh. Memang kita bersandarnya di pelabuhan sih. Banyak toko2 dan pedagang juga. Lebih banyak lagi bule2. Dan .. lagi2, sepertinya hari itu kami satu2nya turis lokal. Kata Pak Dahlan 70% tanah Gili Trawangan sudah jadi properti pribadi orang asing. Kami makan siang di sebuah warung kecil. Nasi campur 10K IDR.. minum teh botol S***O, 10K juga😛

Karena penasaran apa sih yg bagus dari Gili Trawangan sehingga beken dan ramai banget, akhirnya setelah makan kami keliling pulau dengan kidomo. Bukan kodomo lho, ya.. kidomo itu dokar ato andong. Untuk keliling pulau mereka minta 100-150K (lupa tepatnya berapa, yg bayar bukan aku sih :P) Kayaknya nggak jodoh sama Gili Trawangan, deh, tengah2 naik kidomo, turun hujan cukup deras. Area yg hidup hanyalah tepi pantai. Di sana banyak berdiri cottage, hostel, dan beragam jenis tempat inap. Kebanyakan mempunyai spot tepi pantai yg berupa semenan, tempat para bule berjemur. Beberapa ada yg menyediakan kolam renang mungil yg bentuknya lucu2. Di sana juga ada beberapa private property, pembuktian dari apa yg diceritakan Pak Dahlan sebelumnya. Kata penarik kidomo, di tengah-tengah pulau masih hutan, tidak ada apa2. Sepertinya di sana jarang ada orang lokal naik andong keliling pulau. Kami jadi tontonan bule2  deh jadinya. Mana si penarik andong hobi mencet bel yg bunyinya kayak bel orang jualan siomay itu. Maluuuu hehehe. Karena sore, maka air laut surut. Pemandangan yg terlihat adalah batu2 karang dan lumpur. Apalagi dengan mendung bergelanyut di langit. Sama sekali tidak cantik. Tapi mungkin jika air pasang dan langit cerah, baru terlihat kecantikannya. Lalu… entah mengapa kami sama sekali lupa foto2. Hanya sempat foto sebelum pulang saja. Bodoh ya..😛

Selesai berkeliling kami langsung balik ke Lombok naik boat yg sama dengan yg mengantar ke Gili Meno. Selain merasa tidak tertarik bermain di pantai atau melakukan aktivitas lain, kami ingin mengejar sunset di Senggigi (sudah aku review sebelumnya, kan).

Perjalanan kali ini kapal lebih tenang karena membelah ombak. Ketika ada di tengah laut, aku terkesima dengan apa yg baru saja aku alami. Indonesia itu demikian indahnya, ya… ini baru Lombok, lho.. baru sebagian kecil dari harta karun Indonesia. Ada seorang bule asal Belanda di yg sempat ngobrol2 dengan kami di Gili Meno. Dia bilang “Di sini yg paling bagus. Spanyol, Puerto Rico, Thailand, kalah.” Aku percaya sih. Emang bener alam Indonesia nggak ada duanya kok😀