Kalau ada cukup banyak waktu di suatu tempat baru, aku selalu senang belajar sedikit tentang budaya tempat itu. Kali ini di Lombok, aku nyaris seharian belajar budaya Lombok, lebih tepatnya budaya suku Sasak. Oleh Pak Dahlan, berdasarkan instruksi dari pemilik travel yg adalah kenalan papa, kami dibawa Sasak Tour. Tour ini sebenarnya ke 3 tempat plus ke 2 pantai (Kutha dan Tanjung Aan). Tapi akan kutambahkan 1 tempat lagi, yaitu Puri Lingsar yg kami kunjungi di hari ketiga, karena aku merasa tempat ini cukup unik.

Belajar bikin gerabah di Banyumulek

Banyumulek adalah desa tempat pengrajin gerabah. Nama Banyumulek sebenarnya nyontek dari nama daerah penghasil gerabah yg ada di Jawa. Itu kata seorang pengrajin waktu kami tanya2. Jujur, aku aja baru tau ada daerah Banyumulek di Jawa hihihi. Gerabah di sini bahan dasarnya dari tanah liat yg berasal dari Gunung Rinjani. Sebenarnya mahal juga, sih.. 1kg tanah liat mereka beli seharga 9K IDR. Secara.. itu kan cuma lempung😛 Tapi 9K itu bisa menghasilkan berkali lipat duit setelah dibentuk, dijemur, dioven, dan dicat. 1 kg tanah liat itu, mungkin bisa jadi 1 vas ukuran sedang seharga 100K IDR. yg 91K itu adalah harga dari kreativitas, betul nggak ?🙂

Di sini aku sempat belajar bikin gerabah. Pilihanku jatuh pada asbak penyu. Kalo di film2 itu kan muter piringannya itu harus cepat gitu, ternyata muternya cukup sesekali mengikuti tangan yg membentuk gerabah.

Setelah badan penyu berhasil dibuat, diampelas biar halus. sesekali ampelas dimasukin ke air untuk membasahi tanah liat. Habis itu.. tinggal bulet2in tanah liat, terus tempel2. Mirip mainan malam😀 Lalu terakhir, bentuk mata, mulut, kuku dengan menorehkan alat2 sederhana seperti sedotan, paku, atau ranting ke tanah liat. Tidak terlalu sulit sih, asal ada ibu pengrajin yg jadi supervisor hehehe sama aja bo’ong😛 Kata ibunya tkalo tidak untuk alat makan, tidak perlu dioven tidak apa2, cukup dijemur saja. Berhubung kita ngider terus, si penyu dijemurnya di mobil. Alhasil, baru kering setelah 2 hari hihihi. Untuk belajar ini biayanya sukarela. Aku kasih aja 10K.

Di dalam toko, asbak penyuku ini bisa berharga antara 15-25K lho. Tapi itu juga setelah dioven, dicat, dan ditempeli kulit telor. Gerabah dengan desain tempelan kulit telor adalah khas Lombok. Model gerabah di sini lucu2, jadi gemes dan pengen borong.

Ada juga gerabah batik. Aku pikir gerabahnya dibatik, tapi tidak. Cara buatnya cukup simple. Gerabah yg sudah dioven ditempeli kain batik, lalu dilumuri lem dan dijemur. Dilumuri, dijemur lagi. Hingga 3x.

Jadi turis lokal ada enaknya juga. Kayak di Bali, harga turis lokal sama bule beda jauuuuh. Kayak penyu yg aku buat itu. Aku cuma bayar seikhlasnya. Eh, ada bule yg juga bikin, terus pas mau bawa pulang dihargai 50K. Jelas aja bulenya urung.

Belajar Tenun Songket di Sukarare

Setelah belajar bikin gerabah, kami ke Sukarare. Kalo ini adalah tempat kain ikat dan songket khas Lombok. Di depan salah satu toko yg sepertinya paling besar, ada beberapa ibu2 yg di”pajang” lagi bikin kain songket. Budaya Sasak asli mengharuskan semua perempuan bisa menyongket. Bahkan dulu, anak gadis belum boleh menikah jika belum bisa membuat songket. Padahal, bikin songket itu susah dan ribet minta ampun.

Aku yg pengen nyobain dibolehin sama salah satu ibu menggantikan dia. Rada keder juga nih. Jangan2 ntar aku malah ngerusak songketan dia. Setelah duduk, alat songket diikatkan di kayu yg tepat di pinggang. Biar nggak gerak2, kata ibu itu. Hmm.. yg pasti dudukku jadi tegak dan nggak bungkuk sih. Mungkin ada manfaatnya juga buat kesehatan.

Di depanku ada banyak sekali kayu2 kecil dengan benang2 yg super njlimet. Ternyata itu adalah mesin untuk polanya. Lha tau untuk pola A harus gimana, pola B gimana ? Ibunya nggak bisa jelasin. Intinya, dia secara naluriah sudah.Songket yg paling simple dibuat dari 2 benang. Yang aku coba “rusak” ini benangnya coklat dan emas. Benang2 bahan songket dimasukkan ke dalam tongkat berlubang, ini semacam jarumnya gitu kali ya. Nanti tongkat itu harus dilempar melintasi benang bakal kain songket secara bergantian. Setiap selesai melempar satu benang, benang itu dimampatkan dengan memukulnya keras2. Bener2 harus keras, sampe kerasa di perut. Setelah itu kayu kecil pembentuk motif ditarik, masukkan lagi, getok lagi. Aduh, sumpeh ribeet!! >.< Padahal itu baru masukin dan mampatin benang saja, belum nentuin kayu mana yg mesti ditarik, belum bikin polanya. Aaaaaaaaaaaa.. ampun DJ!!!😛

Makanya nggak heran kalau kain songket (bukan ikat) harganya selangit, minim ada 6 angka nol deh. Apalagi yg motif keren begini…

Nggak tau deh berapa😀 Selain songket, di sana juga dijual kain tenun ikat. Kalo yg ini sih, harganya lebih “murah”.. tau kan kenapa aku quote-unquote. Ya.. karena semurah2nya, aku masih nggak rela beli hehehe

Belajar kesederhanaan di Kampung Sade

Kampung Sade adalah kampung Sasak tertua dan terbesar di Lombok. Ada sekitar 100 rumah dengan 700 orang. Semuanya masih saudara! Yup, orang2 di kampung itu menikah dengan saudara mereka sendiri. “Kebayang, nggak, kalau ulang tahun, berarti harus ngundang 700 orang. Lha masih sodara sendiri,” celetuk kakakku. hehe.. benar juga😀

Di sana kami di-guide seorang pemuda yg masih SMA. Tapi cukup fasih juga dia menjelaskan. Menurutnya, karena lahan di kampung ini sudah tidak ada, maka pasangan2 baru terpaksa keluar kampung dan membentuk kampung baru. Sambil berkeliling ia pun menceritakan tipe2 bangunan di sana.

Ada lumbung padi yg berada di atas pilar2 kayu. Juga ada rumah tipe studio. Rumah ini cuma punya 1 ruangan yg merangkap ruang tidur, ruang tamu, dan dapur. Biasanya digunakan oleh pasangan2 yg baru menikah, atau lansia yg hidup sendiri.

Semua bangunan di sana hampir sama. Atapnya dari rumput kering. Dindingnya dari gedhek (jalinan bambu). Lantainya dari tanah liat yg dicampur dedak (gilingan rumput) dan … get ready… TAI SAPI! Hasilnya mirip banget dengan semen. Untuk ngepel, mereka tidak pakai pembersih lantai, melainkan tai sapi juga. Nggak bau ? Aku sempat masuk dan foto2 di dalam. Hmm..bau sih, tapi malah bau tai ayam dan pesing. Tai sapinya malah tidak bau. Bisa seperti itu tai sapi yg digunakan adalah yg fresh from the oven alias yg baru aja keluar. Nggak boleh lebih dari 5 menit. Sepertinya cukup nyaman. Aku sempat melihat seorang bocah tidur di atas lantai itu sampai ngiler2 gitu.

Wisata ini memang menambah pengetahuan lumayan banyak, tapi tidak bisa aku bilang menyenangkan. Selain karena bau tai ayam dan pesing di mana2, aku lagi2 terganggu dengan para pedagang, kali ini anak2 kecil, yg ngintil terus sambil merengek2 minta dagangannya dibeli. Oya, kalau mau ke sini, masuknya gratis. hanya saja perlu memberi honor guidenya sekitar 20K IDR.

Belajar Keberagaman Agama di Puri Lingsar

Suku Sasak asli adalah penganut animisme. Mereka menyembah dewa2 dan patung2. Bahkan setelah agama masuk (85% penduduk Lombok adalah muslim), adat menyembah dewa itu belumlah hilang. Puri Lingsar adalah sebuah tempat pusat pemujaan dari berbagai agama. Di dalamnya selain ada pura, tempat doa umat Hindu, juga ada tempat doa orang Islam.

Selain itu, yg menarik adalah ada kolam doa. Guidenya sempat cerita, tapi aku kurang menamati. Intinya adalah kolam itu adalah buatan seorang raja yg sakti. Ia ingin berbagi kesaktiannya itu dengan masyarakatnya lalu membuat kolam itu. Apapun permohonan rakyatnya di depan kolam itu akan dikabulkan. Seteah berdoa, mereka diminta untuk melempar koin dengan membelakangi kolam. Maknanya adalah agar ketika berbagi rejeki (setelah doa terkabul) jangan sampai diketahui orang. Aku ikut berdoa di sana. Aku pikir tak ada salahnya. Toh berdoanya tetap dengan cara agamaku, dan pada Tuhan bukan pada sang raja atau dewa.

Di sebelah kolam doa, ada tempat untuk upacara2 adat keagamaan. Di sana para warga yg melakukan upacara adat menaruh sesajen. Saat itu ada 3 upacara sekaligus, dari kristen, islam, dan hindu.


Di sana juga ada mata air yg berasal dari danau Segara Anak. Dipercaya mata air itu dapat memberikan kesehatan dan awet muda. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi aku sempat cuci muka dan meminum seteguk, airnya sungguhan segar. Kalah deh air mineral.

Lalu ada juga danau kecil yg katanya adalah miniatur dari Segara Anak. Aku tidak sempat ke sini. Katanya sih di sana ada ikan lele atau tuna begitu yang bisa membawa keberuntungan jika kita berhasil lihat/pegang. hmm.. no comment deh.

Hal yg kupelajari di sini adalah harmonisnya keberagaman agama. Bagaimana orang2 dari agama yg berbeda bisa berdoa di tempat yg sama. Tidak ada pengkotak2an. Andai ini juga terjadi di kehidupan sehari-hari di seluruh dunia. Alangkah damainya🙂