Di postingan lalu aku sempat nyinggung soal perjalananku ke Manado. Well, lebih tepatnya sih ke Tomohon. Manadonya cuma mampir aja buat beli oleh2 hehehe. Hanya berjarak 45-60 menit perjalanan, Tomohon dapat dibilang Batu-nya atau Puncak-nya Manado. Letaknya di bukit, dikelilingi oleh bukit2 pula. Nggak heran hawanya sueeeejuuuukkk dan cocok sekali untuk bercocok tanam tanaman hias. Bahkan Tomohon telah menggelar Tomohon International Flower Festival.

Tapi kunjunganku ke Tomohon tidak ada hubungannya dengan festival bunga itu. Ya iyalah… lha wong festival itu diadakan Juli sedangkan aku datangnya Agustus. Aku ke sana untuk berpartisipasi dalam acara international lain yaitu Tomohon International Choir Competition.

Selain acara kompetisi paduan suara, event ini juga terdapat Symposium on Choral Music (simposium paduan suara). Nah, choir-ku, Eliata Choir, bagaikan mendapat durian runtuh saat diundang untuk mengisi salah satu konser siang (afternoon concert) di simposium itu. Pertama, jelas karena ini adalah event international sehingga kami dapat bertemu dengan choir2 dari manca negara, plus juga ahli2 music… dan kami juga cukup beruntung untuk nimba ilmu gratis dari mereka (thank you so much). Kedua, Kita bisa ke Tomohon!!! Kalo nggak ada acara beginian, pastinya nggak ada alasan buat ke Tomohon. Ya toooh hehehe.

Foto di atas itu konser dadakan. Ceritanya nih, pas konser siang, tiba2 listrik mati, pas sebelum lagu terakhir kita. Padahal lagu itu pake iringan. Jadi nggak bisa ditampilkan. Nah, Prof. Quadros (yg botaknya keliatan itu) penasaran sama lagu terakhir kita. Jadinya, di akhir sesi latian untuk konser pembuka, kami diminta tampil lagi.

Selain ngisi konser pas simposium, kami juga bergabung dengan PSM Unima, Revelation (Srilanka), dan Artic Light Choir (Swedia) untuk konser pembukaan kompetisi choirnya.

FYI, PSM Unima adalah salah satu choir top di Indonesia. Mereka langganan juara dan medali emas di festival choir nasional. Kalau Revelation ini adalah male accapella choir. Mereka adalah juara 1 di World Choir Competition 2008.

Artic Light Choir justru female choir, minus pemain musiknya. Sepertinya sih spesialisasi mereka adalah folksong. Performancenya kereeen banget! Untung ya, Eliata Choir itu konsernya sebelum mereka, kalau nggak kita pasti minder tingkat tinggi deh😛

Untuk konser pembukaan kami menyanyikan karya Haydn dan Handel bersama choir2 hebat ini, diiringi  orkestra lengkap dari ISI, solis2 profesional seperti Stella Zhou, Jammie Hillman, dan Ferry Chandra (Maap, aku upa nama solis altonya >.< ) dan dipimpin oleh profesor musik dari Boston University, Andre de Quadros. I KNOW.. it’s a one lifetime experience!

Karena padatnya jadwal berlatih untuk konser pembukaan itu, sebenarnya aku nggak banyak ngider, cuma sekitar 3-4 spot wisata aja, itu juga tidak bisa lama2. Wisata kuliner juga cuma 1-2 kali aja, soalnya makan 3x sehari disediakan panitia sih. Apalagi Tante Wisma (sebutan kami untuk ibu penjaga penginapan) masakannya TOP! dan bermurah hati untuk memasakkan kami kuliner2 khas sana. Jadi wisata kulinernya di penginapan aja hehehe.

Meski begitu, Tomohon trip ini meninggalkan kesan yg dalam di hatiku. Mungkin karena selama 5 hari itu ngumpul terus sama Eliata Choir, hahahihi bareng, gokil2an bareng, plus juga menjaani kegiatan yg amat kami cintai yaitu menyanyi. Mungkin juga ditambah atmosfir di Tomohon yang cukup religius. Dengan mayoritas penduduk beragama Kristen/Katolik, saat subuh di sana yg terdengar adalah doa2 pagi dari susteran yg diikuti lagu2 rohani. Jadi, meski mata tetep merem, tapi somehow hati ikut berdoa (lebay.com). Mungkin ini juga yg dirasakan saudara2 yg beragama Islam saat di Mekkah. Suasana religius yg kental bikin hati damai. Belum lagi makanan2nya yg hmm… delicioso!! (walau bikin hati ketar/ir mengingat kolesterol dan berat badan yg pasti nambah), juga tentu saja keramahan penduduk Tomohon (yang tak terlupakan adalah panitia, dan terutama LO kami, Vina, Kethlien, dan Rhena). Semua itu bikin kami merindukan Tomohon dan pengen kembali lagi ke sana🙂