Sekali lagi kami berhasil nyuri2 waktu buat plesir. Kali ini malah lebih nekat. Kami pergi di hari H konser hahahaha. Karena nggak pengen tll capek pas malam konser ntar, kami cari tempat yg dekat plus berangkat rada pagian.  Tadinya mau ke Danau Linoe. Sampai sana jam 8 kurang. Eh, ternyata belom buka. Akhirnya kita mutusin untuk ke Bukit Kasih Kanonang. Sekitar 45 menit perjalanan naik bis.. kalo nggak macet hehehe.

Bukit ini dinamakan Bukit Kasih karena 2 alasan. Pertama, karena ada legenda tentang bukit ini. Legendanya sih mirip2 legenda sangkuriang dengan dayang Sumbi. Jadi sepasang ibu-anak, Toar dan Limunut, yg saling jatuh cinta. Bedanya, kalo lengenda Sangkuriang mereka nggak nikah, yg ini nikah dan menjadi nenek moyang suku Minahasa. Dari kejauhan patung wajah si anak sudah terlihat menempel di sisi bukit. Sementara wajah sang ibu baru bisa terlihat setelah menuruni bukit.

Alasan kedua adalah bukit ini adalah tanda perdamaian antar agama. Di sini terdapat semua tempat ibadah masing2 agama yg masih beroperasi, mencerminkan bahwa tidak masalah bagaimana caranya namun yg terpenting adalah Tuhan yg layak dipuji dan disembah. Di depan bukit juga dibangun sebuah tugu 5 sisi, setiap sisinya melambangkan satu agama.


Biaya masuk untuk grup sekitar 50K IDR, plus biaya parkir bis 5K IDR. Ada 2 rute untuk menikmati bukit kasih. Ada rute manusiawi dan tidak manusiawi hehehe… bukan, kok. Ada rute pendek yg hanya melihat 5 tempat ibadah, ada jg rute puaaannjaaang yg sampai ke salib di puncak bukit. Kabarnya kita harus menaiki 2000 tangga untuk mencapai sana. Kabarnya lagi, siapa yg bisa mencapai salib itu maka permohonannya akan dikabulkan.

Benernya pengen juga ke sana, tapi kata tour-guide (bocah2 kecil yg tiba2 aja ngerubungi kita) untuk mencapai salib dibutuhkan 2 jam lebih. Kyaa… lha wong kita cuma punya waktu max. 2 jam😦 Mau nggak mau kita milih yg jalur pendek. Oya, di dekat pos masuk ada target foto yg menarik. Burung2 gereja lagi nongkrong di kabel listri/telpon. Lucu banget, deh. Cepet2 aja kita ngeluarin kamera dan jepret2

Sambil menaiki anak tangga yg sangat landai (congkak.com) kami melihat di kejauhan tampak patung2 nenek moyang Minahasa, Toar dan Limunut, yg full body. Selain itu ada juga patung Pingkan dan Matindas yg merupakan contoh cinta sejati bagi kaum Minahasa.

Akhirnya kami sampai di pertigaan yg membelah rute. Karena ambil rute pendek, maka kami belok kanan. OMG, ternyata untung banget kita nggak nekat ke salib. Jalur pendek aja udah lumayan memperpendek nafas! Padahal kata si guide tangga2 ke salib jauh lebih curam. Tapi berhubung kami lumayan terlatih dengan trip ala pencinta alam ini (sampai2 salah satu dari kami ada yg nyeletuk, “Ini paduan suara ato grup pecinta alam ya? tiap liburan kok mesti naik gunung?” hihihi), kami sangat menikmati bukit kasih. Apalagi kalo nggak karena banyak spot foto selama perjalanan hehehe.

Bukit Kanonang adalah penghasil belerang yg masih aktif. Nggak heran kalau selama perjalanan tercium bau belerang. Bahkan kami melewati satu diding bukit yg mengeluarkan asap belerang. Kamera tidak boleh dibuka di sana. Well, boleh sih kalau memang kepengen lensanya rusak kena asap belerang🙂

Akhirnya sampai juga ke tempat ibadah2 itu. Sebenarnya perjalanannya singkat, kok.. tapi karena kami memang doyan banget foto, maka waktu yg dibutuhkan untuk sampai ke sana nyasir 2x lipat. Di sana terdapat gereja katolik mungil, lengkap dengan gua Maria mungilnya. Selain itu ada pura, gereja kristen, vihara, dan masjid. Semuanya mungil, tapi berfungsi.




Pemandangannya jangan ditanya, deh. A-M-A-Z-I-N-G!! Sembari menikmati pemandangan yg luar biasa indah itu, tanpa sadar mulut kami bernyanyi Betapa Mulia Nama Tuhan. Sampai ada yg pake acara nangis segala😀

Puas mengagumi Kebesaran Tuhan, kami pun (dengan agak menyesal) turun. Ternyata rute turun ini adalah rute jalan salib, dan rutenya rada2 sadis sih. Tinggi per anak tangga sekitar 40 cm-an. Kebayang kalo tadi naiknya dari situ @_@

Di bawah banyak orang berjualan sovenir. Yang cukup unik adalah yg nyediain servis pijat pake air belerang. Beberapa teman nyoba, katanya sih enak. Tapi manfaatnya nggak kerasa😛 Ada jg yg jual jagung dan telur rebus. Rebusnya di air belerang itu. Setelah istirahat dan beli2, kami pun naik bis dan pulang. Kalo ada kesempatan ke sini, aku pengen nyoba sampe ke salib aaah… Oya, topi cantik temen2ku dibeli di sana. Harganya 25-30 K IDR. Punyaku ?? Gratis donk… hasil minjem temen hahahaha😛

Beberapa gambar narsis kami :