Kuburan.

Brrr… begitu dengar kata itu pasti cuma kebayang 1 kata: SERAM!!! *biting nails* Tapi di Toraja, justru kuburan jadi objek wisata utama, lho. Emang sih, awalnya pas cari referensi wisata Toraja aku juga ngerasa aneh, kok yg muncul tempat pemakaman mulu ya? Masa iya liburan malah ke kuburan? Udah kebayang deh liburan ini bakalan jayus. Tapi, setelah tahu bahwa kuburan2 di Toraja tuh unik, aku jadi semangat buat ke sana. Hehehe.. wisata kuburan nih ceritanya😀

Lemo

Dengan mobil carteran, kami berangkat ke objek wisata kuburan pertama, Lemo. Di sini kalo nggak salah kita kena pungutan, entah resmi atau liar, sebesar 20K IDR, belum termasuk parkir. Padahal tempatnya cuma se-uplek aja tuh. Kuburan di Lemo berupa liang-liang yg dipahat di tebing batu. Umumnya satu liang bisa untuk sekeluarga. Pintu2 itu adalah jalan masuk ke kuburan.

Mitos yg tersebar di luaran Toraja, jenasah dapat berjalan dan manjat sendiri ke kuburan itu. Padahal… ya nggak mungkin laaah ^.^ Jenasah2 tersebut diangkat naik oleh para penguburnya. Setelah beberapa waktu, keluarga akan membuat patung/boneka yg diusahakan semirip mungkin dengan yg telah meninggal.

Pemandangan di Lemo cukup indah. Di’frame’ dengan hamparan sawah dan gunung bertebing. But please, jangan hiraukan yg meng-gantung2 itu ya😛 Tapi karena cuma se-uplek, kita cuma bentar aja lah di sini.

Londa

Setelah dari Lemo, kami ke Londa. Kalo yang ini adalah gua yg memang khusus digunakan sebagai kuburan. Karena masuk gua kami pun harus sewa lampu minyak sekaligus dengan guide-nya. Lampunya 25K, guidenya seikhlasnya.

Di depan gua berjentreng (bahasa apa nih “jentreng” ??) peti2 mati yg di-“gantung” di atas. Lalu yg menarik perhatianku juga adalah batu yg mirip banget sama kelelawar raksasa. Berasa kayak di film2 horor gitu yaaa… hehehe

Persis di pintu gua diletakkan tengkorak yg lumayan bikin aku shock karena nyaris megang :-S Jalan di dalam gua cukup licin karena lumut. Seperti halnya yg ada di luar, pet2 mati di dalam gua juga diletakkan begitu saja, baik di atas relung2 gua, maupun di lantai. Jujur, aku rada males foto2 di dalam gua. Selain karena hasilnya gak bakal optimal (gelaaap), juga rada2… gimana gitu.

Semakin lama lorongnya semakin kecil, euy.. sampai ada acara semi-merangkak. Bahkan, akhirnya kami memutuskan untuk berbalik dan keluar dari pintu masuk sebab lorong menuju pintu keluar hanya berdiameter sekitar 50cm dengan panjang 3m😦 Setelah keluar, kami ke gua berikutnya yg lebih kecil. Di sana juga terdapat beberapa peti mati, bahkan ada yg masih baru. Rada2 merinding sih lihat kain kerandanya, tapi meski gitu masih sempet foto2an sama tengkorak hehe

Menurut guide-nya, yg dimakamkan di gua itu adalah masyarakat dari tingkat rendah atau masyarakat biasa. Sedangkan para orang kaya dan masyarakat tingkat atas dimakamkan di gua yg ada di bukit. Semakin kaya orang tersebut maka semakin tinggi makamnya.

Sebenarnya ini bukan masalah kasta sih, tapi lebih karena mencegah pencurian harta. Jadi, di Toraja orang meninggal akan dibekali berbagai harta benda yg ia miliki. Nah, tentu saja yg kaya/ningrat punya banyak harta. Jika dimakamkan di gua bawah, takutnya nanti ada yg mencuri hartanya. Logis juga ya..

Ke’te Kesu

Selain objek makamnya, Ke’te Kesu (baca: Kekte Kesu) juga dikenal karena rumah adatnya. Ya, di depan makam terdapat deretan rumah adat, disebut tongkonan, plus lumbungnya. Jaman dulu suku Toraja menganut faham poligami. Hal itu tergambar dari rumah mereka. Tongkonan adalah lambang lelaki, sementara lumbung padi adalah lambang perempuan. Sebuah tongkonan umumnya memiliki lebih dari 1 lumbung. Kecuali yg di Ke’Te Kesu ini. Di sini mah hubungannya many-to-many😛

Setelah leha2 sebentar dan foto2 yg lama  (:D ) kami lanjut ke makamnya. Sebenarnya konsep makam di sini mirip dengan di Lemo, yaitu di tebing. Bedanya, di sini kita bisa mendekat, walau tidak bisa masuk ke dalam. Ada beberapa peti jenasah yg -sepertinya sengaja- ditaruh di luar tebing. Beberapa peti sudah rusak sehingga tengkorak dan tulang belulangnya tampak.

Batutumonga

Di hari kedua kami mencarter kijang karena tempat2 yg akan kami kunjungi ada di perbukitan. Setelah ke Malakiri mengejar pesta, kami putar balik ke Batutumonga. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk… foto2 tentu saja😀

View Batutumonga jg keren abiiiiiiiiiiiiisss ternyata. Sayangnya, baterai kamera lg kritis, jadi ga bisa jeprat-jepret semauku. Kalau kamu bisa lihat, batu2 bertebaran di tanah, bahkan ada beberapa yg menumpang di atas yang lain, seakan2 dijatuhkan secara sembarangan dari atas.

Batu2 yg cukup besar kemudian difungsikan oleh penduduk Batutumonga sebagai makam. Jadi batunya dikikis membentuk liang kotak gitu. Sepanjang jalan ada beberapa makam dari batu besar di tepi jalan. Tapi, itu bukan puncaknya. Yang kami tuju adalaha Lo’ko’ Mata. Batu buuuueeesaaaar yg menjadi makam belasan, mungkin puluhan, orang meninggal.

Setelah puas foto2 di depan Lo’ko’ Mata, kami pun.. foto2 di sekitar sana hehehe… Habis keren banget sih pemandangannya.

Bori

Perjalanan pulang dari Batutumonga, kami mampir ke Bori. Di sini ada megalith. Kurang paham juga apa yg dilambangkan megalith itu, tapi yg pasti kami bisa foto ala2 India gitu di sini hahaha.

Selain megalith, di Bori ada makam di atas pohon. Makam ini khusus untuk bayi yg belum berumur 3 bulan. Karena dianggap masih suci, maka jenasah bayi tidak dimakamkan, melainkan diletakkan di pohon yg tinggi agar cepat kembali.