Archives for posts with tag: choir

Udah lama banget nggak nonton konser choir. Yang paling nyesel ya pas nggak bisa nonton Phillipine Madrigral Singers gara2.. lupa!! *toeng* Makanya pas kemarin dengar Batavia Madrigal Singers mau konser di Surabaya, aku bela2in nonton deh. Biar kata tiketnya rada2 mahal, biar kata juga materi buat ngajar Senin belum kelar, atau (yg lebih parah) skip gereja *upps*.

[Hah? Siapa tuh ?]

Advertisements

Sebenarnya konser ini diadakan dua minggu lalu, 15 Juni 2008. Tapi, karena ke(sok)sibukanku, akhirnya baru bisa kutulis sekarang. Karena itu aku tidak mau membuatnya lebih terlambat lagi dengan banyak pembukaan (not working! Hehehe)

Magnificent Baroque adalah tajuk konser ketiga Jubilate Singer. Jujur, tidak banyak yang kuketahui tentang choir ini meski mereka, sepertinya, pelayanan di Katedral juga. Aku kenal, meski tak bisa dikatakan dekat, beberapa anggotanya .Aku juga tahu bahwa konser-konser mereka sebelumnya selalu mengangkat tema musik yang cukup berat. Tapi aku tidak tahu seberapa bagus mereka, apa kelebihan mereka. Jadi, aku datang ke konser itu karena penasaran tepatnya 😀 Lagipula aku cukup menyenangi musik Barok.

[Kesanku pada konser ini]

Sabtu, 10 Mei 2008, aku ke Gedung Cak Durasim lagi. Terakhir aku ke gedung itu ketika choir-ku konser, kira-kira satu bulan yang lalu. Kali ini gedung itu kembali menjadi sasana pagelaran konser paduan suara Surabaya. Concord Singer akan membawa para penikmat paduan suara menjelajah keindahan Asia dalam Wonderful Asia.

Concord Singer berdiri pada tanggal 10 Januari 2007, atas prakarsa Fritz Simangunsong, sang conductor sekaligus pelatih. Meski terbilang muda, tapi jangan diremehkan kemampuannya karena –seperti tujuan awalnya, yaitu mempersatukan penyanyi-penyanyi Surabaya di bawah satu wadah- anggota-anggota kelompok ini adalah penyanyi-penyanyi top di Surabaya. Boleh dibilang sebagian besar pentolan paduan suara-paduan suara se-Surabaya (dan Malang ?) tergabung dalam Concord Singer. So… bayangkan saja bagaimana jadinya jika orang-orang profesional dan ahli berkumpul jadi satu … 🙂 Kalau masih sulit membayangkan, bayangkan saja bahwa untuk konser di Cak Durasim yang cukup besar itu, mereka menyanyi tanpa mic! Ya, tanpa mic! Dan ternyata suara mereka cukup memenuhi ruangan itu lho. So.. lagi-lagi, untuk masalah teknis aku merasa tidak cukup berkompeten untuk berkomentar, meski sebenarnya aku punya pendapat sendiri. Jadi, lagi-lagi tulisan ini hanya review secara awam.

[Penasaran? Baca selanjutnya di sini]

Sabtu 26 April 2008. tidak seperti biasanya, pelataran parkir Gereja Katolik Paroki Santa Maria Tak Bercela masih dipenuhi mobil dan sepeda motor, meski misa telah selesai lebih dari satu jam yang lalu. Ternyata pemilik kendaraan-kendaraan itu tengah terbius oleh suara-suara merdu di balai paroki gereja tersebut. Udara dingin, produksi pendingin ruangan, terhangatkan oleh melodi indah yang dilantunkan oleh Rubin Lukito, Evelyn Merrelita, Ganda Charisma, Sabat Tino, Ira Purnama Sari, Alfredo L. Pelupessy, Maria Tampubolon, san Aprilia W. Takasenserang. Mereka, secara bergantian terkadang berduet, mempersembahkan karya-karya “berat” milik Verdi, Puccini, Mozart, Bizet, dan Delibes.

Sesuai dengan tajuknya, program yang diproduksi oleh Unit Apresiasi dan Pengembangan Musik Gereja UK Petra ini menyajikan lagu-lagu Oratorio pada sesi pertama dan Opera Aria pada sesi kedua. Seluruhnya secara Bel Canto. Bel Canto adalah teknik bernyanyi yang efisien, tanpa energi yang berlebihan bisa menghasilkan suara yang terdengar lebih keras. Bahkan bila dilakukan dengan benar, penyanyi dapat membawakan satu frase kalmia yang cukup panjang dalam satu tarikan nafas. Oratorio sendiri adalah komposisi musik yang temanya berdasarkan kejadian atau tokoh rohani dalam kitab suci, sedangkan Opera Aria adalah lagu utuh dalam opera (pementasan drama yang menempatkan musik sebagai bagian yang sangat penting dan dominant).

[Jadi … bagaimana kesanku?]