Archives for posts with tag: music

Reported by Ella Enchanted

Hari Minggu kemarin, tgl 27 Juli 2008, aku ke gereja Katedral Jkt — Sudah lamaaaaaaaaaaaaa bangeeettt ga misa disini… jadi kangen sama ni gereja. Kebetulan temanku, Jeffrey Haribowo , alumni Fikom Petra 2002, sekarang jadi Public Relation-nya Exxon Mobil (Mobil Cepu Ltd.), juga mau misa di sini. Akhirnya berangkatlah kita misa di Katedral….

Pulang misa, kita langsung cabs (cabut –red) ke Grand Indonesia, karena dapat info sebelumnya dari milis Indonesia Choral Lovers, kalau ada Konser Musik Broadway di West Mall-nya, makanya kita tertarik banget nonton konser itu. Setelah makan, dan sedikit muter-muter Grand Indonesia yang sekarang sudah tambah kereeeeeennn abiiisss dengan interior nuansa Jepang, New York,dll, jam 3 kita langsung ke Lantai 3A, di depan Excelso, tempat Fountain daily show. Di depannya sudah berdiri panggung yang tidak terlalu gedhe.


[Lapdangdeng Broadway Show]

Advertisements

Sound familiar? Ya, memang itu adalah tajuk sebuah acara yang mem-‘pleset’-kan (in a good way) pertunjukan broadway terkenal Phantom of The Opera. Itulah mengapa, aku antusias meminta Ella report di sini – (citra)

July 3rd, 2008.

Pulang kerja, setelah ganti baju, n touch up, aku dinner dulu dengan salah satu tvOne’s news presenter, Andrie Nugroho Djarot, terus kami berdua langsung meluncur ke Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki. Kami tiba di sana sekitar jam 19.15 WIB, acara The Phantom of Traditional Opera mulai pukul 20.00.

Kami duduk di barisan VIP yang tiketnya dijual seharga 75ribu rupiah. Kalau regular harganya 50ribu, dan mahasiswa harganya 30ribu rupiah.

Sebelum acara mulai, aku dikenalkan pada Pimpinan Produksi-nya yaitu Mbak Indriyani. Dia adalah manager dari Mahagenta, group yang memainkan The Phantom of Traditional Opera ini.

[Teatrikal Phantom ala Indonesia]

Mengikuti American Idol ? Aku, ya. Sejak American Idol session 1, sampai yg sekarang (session 7). Kemarin adalah grand final American Idol dan aku beruntung bisa melihatnya, tidak langsung sih, karena waktu itu aku masih di kantor. Tapi cukup puas lah, karena at least aku bisa lihat sebelum membaca di koran siapa yg menang hehehe 😛

Dari awal, aku sudah excite dengan session kali ini. Pesertanya punya suara yg bagus-bagus. Aku jg cukup puas dengan hasil top 12-nya (tidak seperti session lalu, kecolongan Sanjaya). Lebih amat sangat puas lagi ketika Top 2 adalah The Davids! Yah, i’m in love with these guys…

[more: Reasons I Love Them]

Sabtu, 10 Mei 2008, aku ke Gedung Cak Durasim lagi. Terakhir aku ke gedung itu ketika choir-ku konser, kira-kira satu bulan yang lalu. Kali ini gedung itu kembali menjadi sasana pagelaran konser paduan suara Surabaya. Concord Singer akan membawa para penikmat paduan suara menjelajah keindahan Asia dalam Wonderful Asia.

Concord Singer berdiri pada tanggal 10 Januari 2007, atas prakarsa Fritz Simangunsong, sang conductor sekaligus pelatih. Meski terbilang muda, tapi jangan diremehkan kemampuannya karena –seperti tujuan awalnya, yaitu mempersatukan penyanyi-penyanyi Surabaya di bawah satu wadah- anggota-anggota kelompok ini adalah penyanyi-penyanyi top di Surabaya. Boleh dibilang sebagian besar pentolan paduan suara-paduan suara se-Surabaya (dan Malang ?) tergabung dalam Concord Singer. So… bayangkan saja bagaimana jadinya jika orang-orang profesional dan ahli berkumpul jadi satu … 🙂 Kalau masih sulit membayangkan, bayangkan saja bahwa untuk konser di Cak Durasim yang cukup besar itu, mereka menyanyi tanpa mic! Ya, tanpa mic! Dan ternyata suara mereka cukup memenuhi ruangan itu lho. So.. lagi-lagi, untuk masalah teknis aku merasa tidak cukup berkompeten untuk berkomentar, meski sebenarnya aku punya pendapat sendiri. Jadi, lagi-lagi tulisan ini hanya review secara awam.

[Penasaran? Baca selanjutnya di sini]

Sabtu 26 April 2008. tidak seperti biasanya, pelataran parkir Gereja Katolik Paroki Santa Maria Tak Bercela masih dipenuhi mobil dan sepeda motor, meski misa telah selesai lebih dari satu jam yang lalu. Ternyata pemilik kendaraan-kendaraan itu tengah terbius oleh suara-suara merdu di balai paroki gereja tersebut. Udara dingin, produksi pendingin ruangan, terhangatkan oleh melodi indah yang dilantunkan oleh Rubin Lukito, Evelyn Merrelita, Ganda Charisma, Sabat Tino, Ira Purnama Sari, Alfredo L. Pelupessy, Maria Tampubolon, san Aprilia W. Takasenserang. Mereka, secara bergantian terkadang berduet, mempersembahkan karya-karya “berat” milik Verdi, Puccini, Mozart, Bizet, dan Delibes.

Sesuai dengan tajuknya, program yang diproduksi oleh Unit Apresiasi dan Pengembangan Musik Gereja UK Petra ini menyajikan lagu-lagu Oratorio pada sesi pertama dan Opera Aria pada sesi kedua. Seluruhnya secara Bel Canto. Bel Canto adalah teknik bernyanyi yang efisien, tanpa energi yang berlebihan bisa menghasilkan suara yang terdengar lebih keras. Bahkan bila dilakukan dengan benar, penyanyi dapat membawakan satu frase kalmia yang cukup panjang dalam satu tarikan nafas. Oratorio sendiri adalah komposisi musik yang temanya berdasarkan kejadian atau tokoh rohani dalam kitab suci, sedangkan Opera Aria adalah lagu utuh dalam opera (pementasan drama yang menempatkan musik sebagai bagian yang sangat penting dan dominant).

[Jadi … bagaimana kesanku?]